13% Warga di Jatim Alami Gangguan Psikologi Dampak Pandemi COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 13 Sep 2021 12:36 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Surabaya -

Selama 2 tahun pandemi COVID-19, kondisi psikologi warga Surabaya mengalami gangguan psikologi meningkat dua kali lipat. Kebanyakan yang dikeluhkan adalah gangguan psikosimatik seperti cemas, depresi dan post-traumatic stres disorder (PTSD).

Spesialis Kejiwaan RS Universitas Airlangga (RS Unair) dr Brihastami Sawitri SpKJ mengakatakan meningkatnya kasus gangguan psikosomatik ini dampak adanya pandemi COVID-19. Di tahun 2021, kasus ini masih terus meningkat akibat dampak Corona.

Sejauh ini keluhan pasien yang mengalami psikomatik karena merasa cemas, khawatir dan takut akan terpapar virus.

"Terkait juga keparahan orang terdekat atau dirinya sendiri yang terpapar COVID-19. Semakin banyak orang yang kena, seperti keluarga dekat, tetangga atau rekan kerja, itu juga berpengaruh dengan psikomatik seseorang," kata Brihastami saat dihubungi wartawan, Senin (13/9/2021).

Brihastami mengatakan, gejala seperti PTSD atau rasa trauma berkepanjangan juga meningkat. Biasanya, PTSD dialami seseorang yang mengalami peperangan, pelecehan seksual, bencana alam dan kecelakaan. Akan tetapi pada saat ini penderita long COVID-19 juga merasakan PTSD.

"Itu (Long COVID-19) sangat berpengaruh. Kan gejalanya membuat orang semakin cemas, insomnia, otot sakit semua. Itu yang dialami masyarakat saat ini," ujarnya.

Pengaruh lainnya, yakni semakin banyaknya varian virus Corona seperti varian lamda, delta dan yang baru-baru ini ada varian MU. Belum lagi, lanjut Brihastami, orang akan merasa cemas dan stres saat melihat ada masyarakat yang tidak patuh atau meremehkan protokol kesehatan.

Dari beberapa penelitian yang didapatkan dari refrensi situs Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), rata-rata yang mengalami rasa cemas tinggi adalah usia muda dan dewasa. Bahkan yang paling tinggi dialami lansia.

"Antara usia 17-29 tahun untuk yang muda dan dewasa. Kemudian yang paling tinggi usia 60 tahun ke atas. Angkanya rata-rata sekitar kalau cemasnya sekitar 65 persen, depresi 62 persen, dan trauma bisa sampai 70 persen di Indonesia. Sementara di Jatim sekitar 13,3 persen yang mengalami masalah psikologi," jelasnya.

Ia mengatakan sebenarnya rasa cemas adalah wajar bagi setiap manusia setiap kali ada tantangan atau ancaman. Untuk mengatasinya bisa dengan cara mengambil napas dan memahami apa yang sedang dialami.

"Harus dibedakan dulu mana yang responsif dengan reaktif. Jadi nggak harus selalu reaktif atau bereaksi setiap menemukan informasi yang belum pasti. Sebaiknya dikritisi dulu informasinya dengan cara mencari sumber berita yang akurat," urainya.

Bila gejala cemas itu belum bisa diatasi dengan cara tersebut kemudian timbul rasa gangguan seperti diare, gelisah, panik, takut meninggal, jantung berdebar, napas sesak, secara berkelanjutan bisa datang ke dokter yang ahli seperti dokter umum, psikiater atau psikolog.

"Nah bisa juga dengan konsultasi lewat daring. Kan platform konsultasi dokter banyak, bila belum bisa teratasi bisa datang konsultasi langsung. Di Surabaya pun juga gitu, banyak pasien yang datang dan mengalami psikomatik atau PTSD. Meningkat dua kali lipat sangat signifikan," pungkasnya.

(fat/fat)