Kapan Gapuro Limo di Ampel Dibangun dan Siapa Penggagasnya?

Faiq Azmi - detikNews
Minggu, 12 Sep 2021 10:28 WIB
gapuro limo ampel
M Khotib Ismail menunjukkan relief di salah satu gapuro limo (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya -

Untuk menuju ke Makam Sunan Ampel, pengunjung harus melewati lima gapura yang disebut gapuro limo atau gapura paduraksa. Kapan gapuro limo tersebut dibangun dan siapa penggagasnya?

M Khotib Ismail, sejarawan lokal di Ampel mengatakan, gapura-gapura tersebut, diyakini sudah ada sejak tahun 1530.

"Sudah lama, sejak abad ke 15. Saya belum tahu persis siapa yang membuat (membangun), tapi gapuro limo ini simbol rukun islam," ujar Khotib kepada detikcom, Sabtu (11/9/2021).

Khotib menjelaskan belum ada kepastian kapan gapura-gapura di makam Sunan Ampel dibangun. Namun, pada tahun 2016 lalu, pihaknya sempat diminta Pemkot Surabya untuk mengecat ulang gapura-gapura yang ada di komplek Makam Sunan Ampel.

Saat proses pengecatan, ada seorang tukang yang menemukan tulisan Jawa kuno di Gapura Munggah. Setelah itu, tulisan Jawa kuno tersebut dipotret dan dibawa ke beberapa ahli untuk mengetahui apa artinya.

gapuro limo ampelFoto: Faiq Azmi

"Memang belum ada data akurat, tapi ada acuan, siapa dan kapan gapura-gapura ini dibangun. Tulisan di gapura munggah itu akhirnya bisa dibaca setelah 2 tahun penemuan, tepatnya tahun 2018. Artinya barang siapa yang melewati akses itu, maka dia mendapat barokah. Tak hanya itu, ada angka-angka juga, angka saka, angka jawa, yang berasal dari abad ke 15," kata Khotib.

Khotib bersama tim BCBP Trowulan menduga ornamen relief yang ada di gapuro limo itu bernuansa arsitektur di era Majapahit.

"Kalau menunjukkan angka itu (1530), Raden Rahmat atau Sunan Ampel ini sudah meninggal. Hanya saja kita terus cari siapa yang membangun gapura ini, bisa juga melalui uji karbon. Saya menduga dari tulisan itu dibangun ketika Sunan Ampel tidak ada. Tapi itu perintah membangunnya dari Sunan Ampel," ujar Khotib.

"Lalu siapa yang garap, ya dugaan saya santrinya Sunan Ampel dari Trowulan, karena tren arsitekturnya Majapahit. Termasuk reliefnya ornamennya memang ada pengaruh Hindu Budha. Tapi karena Islam, maka akhirnya yang dipilih bukan binatang, karena islam melarang. Salah satunya ada ornamen relief cengkeh ini. Ternyata cengkeh atau rempah ini sudah dimanfaatkan warga sejak zaman Majapahit," tandas Khotib.

Gapura-gapura yang dijuluki 'Gapuro Limo' ini memiliki ornamen relief dan ukuran yang berbeda-beda.

Dimulai dari Gapuro Munggah (naik) yang ada di Jalan Sasak. Gapura ini merupakan salah satu gapura pintu masuk menuju makam Sunan Ampel. Lalu ada Gapuro Poso (puasa) di dekat tempat wudhu para peziarah.

Masuk lebih dalam menuju makam Sunan Ampel, peziarah akan menjumpai Gapuro Mengadep (menghadap). Gapura ini identik dengan relief ornamen berbentuk cengkeh.

Kemudian peziarah akan melewati Gapuro ngamal (zakat). Hingga di gapura terakhir di dekat makam Sunan Ampel, yakni Gapuro Paneksen (penyaksian).

Sadar atau tidak, saat peziarah melewati lima gapura paduraksa tersebut, ukurannya berbeda-beda. Semakin dekat dengan makam Sunan Ampel, ukurannya semakin kecil.

(iwd/iwd)