Begini Penanganan TKI yang Positif COVID-19 di RSLI Surabaya

Esti Widiyana - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 09:56 WIB
Penanggung jawab Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi MARS
Penanggung Jawab RSLI Surabaya, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi MARS/Foto: Esti Widiyana
Surabaya -

Surabaya menjadi salah satu pintu pulangnya TKI atau Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka yang positif COVID-19 dirawat di RSLI Surabaya.

"Semua yang terkonfirmasi positif memang rata-rata tanpa gejala (OTG) hingga gejala ringan. Meskipun demikian bagi yang mempunyai komorbid seperti hipertensi, obesitas, gula darah dan sebagainya perlu diwaspadai," kata Dokter Spesialis Paru dr Nevy Shinta Damayanti SpP kepada wartawan di RSLI, Jumat (10/9/2021).

Bagi pasien dengan ciri-ciri khusus akan dilakukan uji Whole Genome Sequencing (WGS). Tentang varian baru, imbuhnya, gejalanya hampir sama. Tapi virus sebagai makhluk hidup juga belajar dan menyesuaikan diri.

"Sebagaimana halnya pasien reguler, 80 persen pasien RSLI dari PMI (luar negeri), penanganannya sekarang terbalik. Kalau dulu PMI dipisahkan dari pasien umum. Sekarang pasien umum yang dipisahkan dari pasien PMI, karena jumlahnya sudah relatif sedikit," jelasnya.

Pasien dari PMI juga diberi edukasi yang tepat, karena terkadang mereka yang dari luar negeri menerima informasi yang simpang siur tentang COVID-19. Termasuk masalah aturan karantina.

"Yang jelas mereka dari luar negeri harus benar-benar sudah clear saat akan kembali ke masyarakat. Sehingga tidak lagi ada penularan yang massif hingga terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)," ujarnya.

Masyarakat pun, tambahnya, harus menerapkan kewaspadaan yang sama. Masyarakat juga harus tetap menyadari akan bahaya Corona dan jangan sampai abai.

"Yang merasakan gejala (klinis) COVID-19 harus lapor ke faskes terdekat, supaya ditangani. Vaksinasi harus jalan terus, sehingga semua aman. Jangan sampai kita kehilangan satu generasi akibat pandemi ini," jelasnya.

Sementara Penanggung Jawab RSLI Surabaya, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi MARS menambahkan, selain merawat pasien COVID-19 14 hari, juga tetap memonitoring hingga pasien benar-benar sembuh. Semua dipantau dan dicermati, untuk yang CT Value-nya masih rendah, ditunda kepulangannya.

"Selanjutnya diedukasi dan dirawat lebih lanjut. Mereka yang sudah bisa pulang, tapi masih menunggu jadwal keberangkatan pesawat maupun kapal laut, juga difasilitasi oleh relawan pendamping PPKPC-RSLI melalui rumah singgah. Dengan fasilitas dan layanan gratis ini diharapkan para penyintas merasa nyaman hingga pulang kembali ke keluarga dan rumahnya masing-masing," urainya.

Tentang problematika yang khas di pasien PMI, Dokter Psikiater/Spesialis Jiwa, Mayor Laut (K/W) dr Ni Kadek Ratnadewi MBiomed SpKJ menjelaskan, kebanyakan dari PMI menghadapi kendala mental/psikis. Hal ini dipicu karena saat kepulangan, mereka berharap segera sampai dan berkumpul dengan keluarga.

"Ternyata mereka harus menjalani aturan karantina, apalagi kemudian terkonfirmasi positif COVID-19 dan mengharuskan diisolasi minimal 14 hari. Juga mereka yang dirawat, ternyata setelah 14 hari masih ada yang positif, itu juga menambah beban psikis mereka," kata Ni Kadek.

"Untuk itu kami lakukan terapi psikis dan juga konsultasi. Langkah psikoterapi kami berikan, yang mengalami psikis berat kami bantu dengan berikan tambahan farmakoligi. Juga dari relawan pendamping ada program teman curhat yang juga membantu mengurangi beban masalah psikis yang diderita para pasien PMI. Melalui penanganan psikologis pasien, kami berharap mereka segera bangkit, pulih dan kembali ke keluarganya dengan selamat, sesuai keinginan dasar mereka saat ingin pulang ke kampung halaman," pungkasnya.

(sun/bdh)