RSLI Surabaya Sebut Pihaknya Tak Berhak Umumkan Adanya Varian Baru COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 10 Sep 2021 20:24 WIB
Penanggung jawab Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi MARS
Penanggungjawab RSLI (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Kasus COVID-19 dengan CT Value 1,8 dialami pasien di RS Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya. Belum diketahui apakah pasien tersebut terpapar varian baru MU atau varian lama.

Penanggungjawab RSLI Surabaya, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi MARS menegaskan pihaknya tidak pernah mengabarkan ada pasien dengan varian baru MU. Dia juga menyebut pihaknya tidak memiliki kewenangan mengumumkan varian baru yang muncul.

Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan whole genome sequencing oleh ITD Universitas Airlangga (Unair) untuk memastikan varian virus tersebut.

"Tugas RSLI merawat pasien COVID-19, melakukan tindak lanjut apa bila ada yang perlu dicermati dan melaporkannya kepada pemangku kebijakan dalam hal ini Dinkes Jatim dan Gubernur. Setelah itu baru kita tindaklanjuti setelah rilis resmi dari mereka," jelas Samsulhadi di Surabaya, Jumat (10/9/2021).

Sementara itu, sejak penanganan PMI mulai 6 Mei 2021, RSLI mendapatkan data yang menarik. Setelah 8 hingga 12 hari dirawat, saat dilakukan swab PCR lanjutan, ternyata banyak dijumpai hasil CT value pasien masih di bawah 25. Samsulhadi menyebut ada total 879 pasien.

"Dari jumlah itu pun, terdapat 78 yang jumlah CT valuenya di bawah 15, serta 22 orang dengan CT Value antara 5 hingga 10, serta 2 orang dengan CT value di bawah 2," ungkapnya.

"Terhadap fenomena ini, sekali lagi kami tidak pernah deklare adanya varian baru. Hanya saja, alangkah sayangnya apabila data-data menarik ini lewat begitu saja, sehingga kami sampaikan kepada pihak terkait, termasuk pemerintah untuk ditindaklanjuti," tambahnya.

Saat ini, RSLI merawat 148 pasien. Rinciannya, 122 PMI dan 26 pasien umum/mandiri. Hari ini juga ada tambahan 80 hingga 90 PMI dari Satgas PMI.

"Keberadaan pasien PMI memang menjadi bahan diskusi yang hangat. Terkait COVID-19 yang kebanyakan diderita oleh mereka adalah masuk dalam Variant of Consequence (VoC) dan karena merupakan pelaku perjalanan internasional. Maka selain tugas kami merawat, juga sebagai ilmuwan dan profesional di bidang kesehatan kami aware terhadap fenomena yang ada untuk bisa mengumpulkan data dan kami tindaklanjuti dengan penelitian dan kami sampaikan kepada pihak terkait," pungkasnya.

Tonton juga Video: Pengendara Emosi Gegara Penyekatan Bundaran Waru Bikin Macet

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)