Gede Banget! Ketela Raksasa di Ponorogo Ini Hasilkan 50 Kg Satu Batangnya

Charoline Pebrianti - detikNews
Rabu, 08 Sep 2021 12:05 WIB
ketela pandemir
Petani dengan hasil panen ketela Pandemir (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo -

Untuk menambah penghasilan, petani di Ponorogo menanam ketela pandemir. Ketela ini sering ditanam sebagai tanaman sela di areal pertanian di Ponorogo.

Ada yang istimewa dari ketela pandemir ini. Umbinya terbilang sangat besar bila dibandingkan dengan ketela kebanyakan. Perawatannya pun mudah sehingga tak perlu repot mengurusnya.

Dengan masa tanam sembilan bulan hingga setahun, ketela pandemir bisa menghasilkan 3-5 kg setiap satu umbi nya atau sekitar 5 kg untuk satu batang pohon ketela. Secara kasat mata, ketela ini memang terlihat sangat besar. Ukurannya bisa sampai sebesar kentongan.

"Ini masa tanam selama setahun," ujar Jairan (4), salah satu petani di Desa Pangkal, Sawoo, sambil menunjukkan ketela pandemir hasil panennya, Rabu (8/9/2021).

ketela pandemirKetela pandemir yang ukurannya raksasa (Foto: Charoline Pebrianti)

Jairan menjelaskan meski hanya dijadikan tanaman sela, namun ketela pandemir jadi salah satu komoditas andalan warga setempat. Sebab, ketela ini paling cocok diolah jadi makanan tradisional, gaplek.

"Saat ini harga gaplek mencapai Rp 2.100 per kilogram dari petani," jelas Jairan.

Setelah panen, lanjut Jairan, biasanya ketela direndam dengan air selama 2 hari untuk menghilangkan zat beracun di dalamnya. Setelah direndam, ketela kemudian dipotong dan dijemur hingga kering.

"Biasanya dijemur selama empat hingga tujuh hari, setelah kering baru diolah," imbuh Jairan.

Menurut Jairan, harga ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 1.500-Rp 1.700 per kilogram. Jairan berharap harga ini terus bertahan supaya kesejahteraan petani bisa meningkat.

Jairan menyebut ketela pandemir merupakan salah satu tanaman khas Pangkal, Sawoo. Warga tidak pernah membeli bibit atau batang singkong. Melainkan mengambil bibit dari batang sebelumnya sehingga biaya produksi bisa ditekan.

"Harapannya harganya meningkat, minimal ya bertahan," tandas Jairan.

Simak juga 'Jokowi Resmikan Bendungan Bendo Ponorogo, Dibangun dengan Biaya Rp 1,1 T':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)