Dispendik Surabaya Asesmen Ulang Jelang Sekolah Tatap Muka

Amir Baihaqi - detikNews
Sabtu, 28 Agu 2021 22:34 WIB
Poster
Ilustrasi sekolah tatap muka (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Surabaya -

Dispendik Surabaya akan melakukan asesmen ulang terkait kesiapan belajar tatap muka SD-SMP. Itu dilakukan setelah Kota Pahlawan turun ke level 3 dalam pemberlakuan PPKM.

Kepala Dispendik Surabaya Supomo mengatakan, sesuai dengan keputusan pemerintah, belajar tatap muka baru bisa dilakukan jika sudah turun ke level 3. Adapun Keputusan itu tertuang melalui SKB 4 menteri.

Sedangkan ketentuannya PTM yakni maksimal kapasitas 50 persen, lalu PAUD maksimal 33 persen. Kemudian untuk SDLB, SMPLB, SMALB, dan MALB 62-100 persen. Meski sudah turun ke level 3, lanjut Supomo, pemerintah daerah tidak bisa serta merta langsung memberlakukan belajar tatap muka. Untuk itu pihaknya melakukan asesmen ulang terkait kesiapan sekolah dan belajar tatap muka.

"Jadi tidak serta merta ketika kita (Surabaya) turun ke Level 3, kemudian kita langsung bisa membuka belajar tatap muka dan langsung jalan. Karena di SKB 4 menteri, diatur juga kesiapan-kesiapan sekolah, kemudian apa yang harus dilengkapi dan segala macam itu harus dipenuhi," jelas Supomo, Sabtu (28/8/2021).

Lebih lanjut Supomo menyebut, sekolah boleh diizinkan menggelar belajar tatap muka jika sudah memenuhi sejumlah syarat. Antara lain sekolah menyediakan tempat cuci tangan, hand sanutizer sampai pengecek suhu badan bagi siswa dan guru.

"Setelah kesiapan sekolah itu dipenuhi, kemudian sekolah harus mengisi data di Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Selanjutnya dilakukan asesmen oleh Satgas COVID-19 Surabaya untuk melihat benar tidaknya yang pihak sekolah sampaikan," ujarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Sekolah Menengah (Sekmen) Dispendik Kota Surabaya, Tri Aji Nugroho menambahkan, setelah lolos dari asesmen, maka sekolah selanjutnya akan melakukan simulasi belajar tatap muka. Simulasi ini terkait penerapan protokol kesehatan di sekolah.

"Jangan sampai kemudian ketika langsung dijalankan PTM, ternyata prokes di sana (sekolah) tidak terkontrol. Karenanya dilakukan simulasi terlebih dahulu untuk melihat bagaimana mereka menerapkan protokol itu," tutur Tri.

Menurut Aji, pada simulasi sekolah, pihaknya sudah pernah melakukannya. Simulasi itu dilakukan oleh 15 lembaga sekolah pada bulan Desember 2020 lalu.

"Karena simulasi sudah dilakukan. Kemudian kesiapan juga sudah disiapkan semua. Sehingga kita tinggal final checking, untuk istilahnya kita cek lagi yang dulu sudah disiapkan masih ada atau tidak, akan kita cek ulang," tandas Tri.

(fat/fat)