Suami Tandatangani Kuitansi Kosong, Wanita Ini Terancam Kehilangan Rumah

Sugeng Harianto - detikNews
Kamis, 26 Agu 2021 17:29 WIB
Seorang wanita di Nganjuk terancam kehilangan rumahnya dalam masalah utang piutang. Ia sudah melapor ke polisi sebagai korban penipuan.
Nurul Hasanah (42)/Foto: Sugeng Harianto/detikcom
Nganjuk - Seorang wanita di Nganjuk terancam kehilangan rumahnya dalam masalah utang piutang. Ia sudah melapor ke polisi sebagai korban dugaan penipuan.

Yang bersangkutan yakni Nurul Hasanah (42). Sementara suaminya Mahmud Fatani sudah meninggal dunia.

"Jadi awal mulanya saya dan almarhum suami ada utang piutang di Koperasi Nirwana Nganjuk. Perjanjian datang ke notaris waktu itu hanya utang piutang, bukan jual beli rumah. Utang Rp 600 juta dengan tempo delapan bulan pada 2019. Tapi beberapa waktu lalu pemilik koperasi mengabari minta saya agar mengosongkan rumah karena sudah miliknya," kata Nurul kepada wartawan di rumahnya, Kamis (26/8/2021).

Nurul merupakan warga Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk. Ia kaget saat mendapat undangan sidang gugatan perdata di PN Nganjuk. Pihak Koperasi Nirwana memperlihatkan kuitansi jual beli yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

"Saat itu pihak notaris tidak membacakan juga apa yang saya tandatangani. Dalam pemikiran saya utang piutang dan butuh uang langsung kita tandatangani. Termasuk kuitansi kosong. Tahunya kuitansi kosong berubah jual beli rumah ini saat sidang gugatan di PN," kata Nurul sambil mengusap air mata.

"Kuitansi bertuliskan bahwa suami saya menjual rumah dan tanah seharga Rp 840 juta. Padahal rumah ini nilainya sekitar Rp 3 miliar," imbuhnya.

Nurul mengakui, sang suami waktu itu menandatangani kuitansi kosong. Langsung dilakukan karena butuh uang. Saat ini pihaknya melalui kuasa hukumnya telah melaporkan Koperasi Nirwana ke Polres Nganjuk atas dugaan penipuan.

"Saya sudah minta bantuan pengacara untuk menyelesaikan kasus ini dan melaporkan ke Polres Nganjuk," terangnya.

Victor Asian Sinaga, penasihat hukum dari Nurul menjelaskan, kliennya melaporkan koperasi tersebut dengan tuduhan pemalsuan surat dan penipuan. "Kita tuntut dengan Pasal 263 dan 264 tentang pemalsuan surat dan Pasal 368 tentang pemerasan dan 378 tentang penipuan dengan ancaman pidana di atas 5 tahun penjara," ungkap Viktor.

Victor menambahkan, Koperasi Nirwana dinilai tidak manusiawi yang secara sepihak membeli rumah dari utang Rp 600 juta menjadi Rp 840 juta dalam 8 bulan. Sedangkan harga normal rumah kliennya sekitar Rp 3 miliar. (sun/bdh)