Penyidik BPOM Dinilai Kurang Profesional Sita 7 Truk Barang Bukti di Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 25 Agu 2021 14:52 WIB
tiga pabrik produksi jamu ilegal digerebek
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi -

Penyidik BPOM RI dinilai kurang profesional saat melakukan penyitaan 7 truk barang bukti di pabrik diduga memproduksi jamu ilegal di 2 Kecamatan Banyuwangi. Lamanya proses pengajuan penyitaan di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi oleh Penyidik BPOM RI, hingga dikembalikan lagi lantaran berkas tidak lengkap.

Hal tersebut disampaikan Praktisi Hukum Kabupaten Banyuwangi Eko Sutrisno saat ditemui di kantornya Jalan Piere Tendean, Banyuwangi, Selasa (24/08/21).

Menurut Eko Sutrisno, lamanya proses pengajuan penyitaan di PN Banyuwangi oleh Penyidik BPOM RI, hingga dikembalikan lagi lantaran berkas tidak lengkap, membuat proses penyitaan terkesan tidak profesional.

"Lamanya proses pengajuan penyitaan di pengadilan, sejak dilakukan penggeledahan, dilakukan rilis belum ada penetapan, setelah itu kemudian pengajuan penyitaan di pengadilan. Selanjutnya belum disetujui sampai sekarang, belum ditentukan siapa tersangkanya saksi yang diperiksa siapa, itu yang menurut kami menunjukkan kurang profesionalnya penyidik BPOM RI," kata Eko kepada wartawan.

Proses penyitaan penyidik BPOM RI tidak menutup kemungkinan bisa terjadi salah orang karena ketidakjelasan tersangka hingga saksi yang diperiksa. Bahkan pemilik melakukan praperadilan hingga pelaporan ke polisi secara pribadi.

"Sesuai dengan apa yang disampaikan pengadilan, pada saat pengajuan itu belum ditetapkan barang itu disita dari siapa. Jadi bisa salah orang dong nanti," imbuhnya.

Sebelumnya, penyidik BPOM RI usai menggelar rilis penyitaan 7 truk barang bukti di Mapolresta Banyuwangi, rupanya belum mengajukan permohonan penyitaan. Hingga permohonan penyitaan masuk di PN Banyuwangi, Selasa (3/8/21).

"Sehingga ketika melakukan pengajuan penyitaan dan penggeledahan harus dilengkapi siapa terdakwa atau tersangkanya, sehingga pengadilan mengabulkan," Kata I Komang Didiek Prayoga Humas PN Banyuwangi

Hingga akhirnya, Jumat (20/8/21), PN Banyuwangi baru menyetujui surat permohonan penyitaan meski hanya ada saksi dalam berita acara penyitaan tersebut. Terlebih menurut Komang kelengkapan berkas dilakukan seminggu atau 7 hari setelah dibalas PN Banyuwangi.

Sebelumnya BPOM RI berhasil membongkar praktek produksi jamu tradisional ilegal 3 pabrik di Banyuwangi. Ketiga pabrik tersebut ada di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar dan dua pabrik di Dusun Sumberagung dan Dusun Sumbergroto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono.

Direktur Siber Obat dan Makanan BPOM RI, Nur Iskandarsyah mengungkapkan penggerebekan ini dilakukan berdasarkan informasi dari masyarakat atas dugaan praktek produksi jamu tradisional tak berizin dan mengandung bahan kimia.

Salah satunya produk jamu tradisional berlabel 'Tawon Klanceng' yang diproduksi oleh CV Putri Husada. Setelah dilakukan pengawasan dan penyelidikan, ditemukan bahwa produk jamu tradisional tersebut tak memiliki izin edar serta menggunakan bahan kimia.

"Ini merupakan hasil operasi terpadu lintas sektor. Kami menemukan 3 pabrik yang memproduksi jamu tradisional tanpa izin dan berbahan kimia. Ini tentu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia," ungkap Nur Iskandarsyah, di Mapolresta Banyuwangi, Senin (2/8/2020).

(fat/fat)