Marak Bunuh Diri Selama Pandemi COVID-19, Ini Penjelasan Psikolog

Amir Baihaqi - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 18:49 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Surabaya -

Seorang pria di Ponorogo ditemukan tewas gantung diri di rumahnya usai istri dan adik meninggal terpapar COVID-19. Sebelumnya, di Mojokerto juga sama, seorang suami nekat terjun ke sumur hingga tewas karena depresi setelah istrinya juga meninggal karena Corona.

Psikolog Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Sayidah Aulia ul Haque menjelaskan bunuh diri merupakan sebuah respons saat seseorang menghadapi suatu konflik atau peristiwa yang berat. Dalam menghadapi itu, seseorang biasanya dihadapkan pada dua pilihan yakni fight atau flight.

"Bunuh diri ini sebuah respons ketika seseorang menghadapi konflik ya. Atau suatu peristiwa yang berat. Kadang orang itu ketika menghadapi konflik atau peristiwa yang cukup berat itu ada dua responsnya yaitu fight atau flight," jelas Aulia kepada detikcom, Senin (23/8/2021).

"Kalau flight itu kan terbang ya. Artinya dia menghindar. Nah, orang yang bunuh diri ini memilih respon flight, ingin menghindar karena tidak kuat menghadapi saking beratnya peristiwa ini buat dia," imbuhnya.

Baca juga: Pria di Ponorogo Gantung Diri Usai Istri dan Adiknya Meninggal Karena COVID-19

Aulian menambahkan, selain untuk merespons konflik atau peristiwa yang berat, bunuh diri juga bisa dianggap sebagai respons berduka. Dan dari rasa duka ini kemudian muncul fase denial dan anger serta bargaining.

Pada fase denial misalkan, orang yang akan bunuh diri menyangkal atau menolak bahwa seharusnya keluarganya tidak seharusnya menjadi korban COVID-19. Fase ini kemudian masuk ke fase anger atau marah yang berlebihan dan memicu emosi sehingga memunculkan fase bargaining.

"Sebenarnya bunuh diri juga menjadi sebuah satu bagian merespons duka. Kalau di psikologi itu berduka ada tahapannya. Jadi orang berduka itu akan denial atau menolak 'wah ini seharusnya tidak terjadi," ujar Aulia.