Ini Cerita Bagaimana Kebun Bunga Matahari yang Viral di Mojokerto Tercipta

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 18:05 WIB
viral kebun bunga matahari
Kebun bunga matahari di Mojokerto yang viral (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Kebun bunga matahari di Kabupaten Mojokerto menjadi viral di medsos hingga menjadi objek wisata dadakan. Kebun sekitar 7.000 meter persegi Ini digadang-gadang menghasilkan 11.220 Kg biji bunga matahari.

Kebun di Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Mojokerto tersebut milik Budi Utami (50). Ibu dua anak ini membeli kebun tersebut 2008 silam. Selama ini ia hanya menanam tebu di lahan tersebut.

"Tiga tahun saya tanami tebu terus rugi karena kena banjir dan dimakan tikus. Kemudian saya diamkan dua tahun," kata Utami kepada detikcom, Senin (16/8/2021).

Baru pertengahan Juni 2021, Utami dan suaminya memutuskan menanam bunga matahari di kebun tersebut. Karena bunga berwarna kuning ini rentan terhadap hujan. Sehingga ia menanam perdana pada musim kemarau.

Saat itu, warga Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini menanam bunga matahari mulai dalam bentuk benih. Dua bulan berlalu, kini kebun sekitar 7000 meter persegi itu berisi 66.000 batang bunga matahari yang sudah bermekaran. Jarak tanam hanya 30 cm antar tanaman sehingga nampak rapat dan indah.

Utami memperkirakan, hamparan bunga matahari miliknya siap dipanen akhir September nanti. Setiap batang ditaksir menghasilkan 170 gram biji bunga matahari. Sehingga ia bakal memanen 11.200 Kg biji bunga matahari dengan catatan tanaman tidak ada yang rusak.

"Biji bunga matahari untuk kuaci. Sudah ada mitra yang siap menampung untuk dikirim ke pabrik. Harganya Rp 17.000 per kilogram," terangnya.

Utami mengaku tak berniat menjadikan kebun matahari miliknya sebagai destinasi wisata. Karena viral di medsos sepekan terakhir membuat banyak pengunjung datang untuk sekadar berswafoto.

Namun, ramainya wisatawan justru membuat Utami was-was. Karena hamparan bunga matahari tersebut rentan rusak jika dimasuki pengunjung. Oleh sebab itu, kini ia memasang pagar untuk mencegah wisatawan masuk.

Jika menanam bunga matahari dinilai menguntungkan, ia tak akan lagi menanamnya di kebun yang sama. Ibu dua anak ini bakal mengembangkan pertanian bunga matahari di lahan yang tak mudah dimasuki orang.

"Ada wacana membuat wisata (di kebun yang sekarang ditanami bunga matahari), tapi tidak bunga matahari lagi. Akan saya tanami bunga yang lain, misalnya lavender yang tidak rentan," tandasnya.

(iwd/iwd)