Soal Sanksi Agen Penyalur Bantuan Daging Ayam Busuk, Ini Kata Dinsos Jombang

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 16:51 WIB
daging ayam busuk
Warga tunjukkan daging ayam beku pengganti daging ayam busuk yang ia terima (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jombang -

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang Hari Purnomo mengaku tidak mempunyai kewenangan untuk menghukum agen e-Warong yang menyalurkan bantuan daging ayam busuk kepada 25 keluarga di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak. Ia menyerahkan nasib agen tersebut ke BNI.

Hari mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim ke Desa Sukorejo untuk mengecek kasus daging ayam busuk dari program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Kemensos. Ternyata benar, terdapat 25 keluarga penerima manfaat (KPM) yang masing-masing menerima 1 Kg daging ayam busuk.

Terdiri dari 21 keluarga di Dusun Tronyok dan 4 keluarga di Dusun Pedes. Daging ayam busuk itu disalurkan agen e-Warong Riya Pangestu di Dusun Pedes, Desa Sukorejo bersama komoditas lainnya pada Senin (9/8). Agen mandiri ini mendapat pasokan ayam dari Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak, Jombang.

"Tugas kami melakukan pengendalian dan pemantauan. Jadi, kroscek ke lapangan terkait kejadian itu. Kondisi lapangan terkait temuan-temuan itu kami tindaklanjuti sesuai prosedur. Dalam hal ini karena itu terkait mungkin pelanggaran di e-Warong, ya kami teruskan ke BNI," kata Hari saat dikonfirmasi wartawan, Senin (16/8/2021).

Ia menjelaskan, Dinas Sosial Kabupaten Jombang tidak mempunyai kewenangan untuk menghukum agen e-Warong Riya Pangestu. Menurut Hari, kewenangan tersebut berada di tangan BNI.

"Kalau pelanggaran atau tidak nanti yang berwenang mungkin BNI, tapi kondisi lapangan seperti itu kami sampaikan ke BNI. BNI sudah melakukan tindak lanjut, memberikan surat teguran kalau tidak salah," terangnya.

Sejauh ini, lanjut Hari, Dinsos Jombang sebatas memberikan rekomendasi ke BNI terkait insiden 25 KPM di Desa Sukorejo menerima bantuan pangan daging ayam busuk. Pihaknya juga telah melaporkan persoalan ini ke Sekda Jombang Akhmad Jazuli, serta ke Dinsos Jatim dengan tembusan ke Kemensos.

"Intinya menyampaikan hasil kroscek kami di lapangan. Kemudian kami minta BNI selaku pemilik kewenangan terhadap keberadaan e-Warong untuk melakukan pembinaan sesuai tahapan prosedur mereka. Terkait ini jenis pelanggaran apa, bentuk sanksinya apa, BNI yang bisa memberi keterangan," jelasnya.

Sampai saat ini, Hari mengaku belum mengetahui apa penyebab daging ayam bisa dalam kondisi busuk saat diterima 25 KPM di Desa Sukorejo. Padahal, mayoritas KPM yang juga mengambil BPNT ke agen e-Warong Riya Pangestu menerima daging ayam segar.

"Kami tidak dapat laporan itu dari teman-teman. Kami lebih pada monitoring untuk menjamin komoditas untuk KPM 6T, tepat sasaran, jumlah, waktu, kualitas. Kalau ada komplain dari KPM, kami tindaklanjuti sesuai kewenangan kami," ujarnya.

Ia juga mengaku tidak mengetahui siapa yang penyuplai daging ayam ke agen e-Warong Riya Pangestu. Menurut dia, agen tersebut tergolong mandiri sehingga bebas memilih penyuplai komoditas untuk BPNT.

"Sesuai pedum, penyuplai menjadi wilayahnya e-Warong karena agen mandiri. (Siapa penyuplainya?) Saya tak dapat laporan sedetil itu. Selama ini yang sudah berjalan kan ada paguyuban suplier, itu yang kami bisa memantau karena kami jalin komunikasi untuk menjamin 6T. Kalau ini yang mandiri kami tak tahu, dia lepas dari yang selama ini sudah berjalan," tandasnya.

Daging ayam busuk diterima 25 KPM di Desa Sukorejo dari agen e-Warong Riya Pangestu pada Senin (9/8). Agen ini menyalurkan BPNT ke 230-250 KPM setiap bulan.

Setiap KPM menerima beras 10 Kg, bawang putih 1 Kg, tahu 1 kotak, telur 20 butir, kentang 1 Kg, serta daging ayam 1 Kg. Agen tersebut telah mengganti semua daging ayam busuk dengan yang segar pada Kamis (12/8).

(iwd/iwd)