Kisah Relawan Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 di Lamongan

Eko Sudjarwo - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 10:14 WIB
Relawan di Lamongan ini telah membantu pemulasaraan lebih dari 180 jenazah pasien COVID-19 selama pandemi. Seperti apa cerita lengkapnya?
Relawan pemulasaraan jenazah pasien COVID-19 di Lamongan/Foto: Eko Sudjarwo/detikcom
Lamongan -

Relawan di Lamongan ini telah membantu pemulasaraan lebih dari 180 jenazah pasien COVID-19 selama pandemi. Seperti apa cerita lengkapnya?

Relawan ini adalah Kaslam, warga Kecamatan Paciran. Ia merawat jenazah pasien COVID-19 mulai dari proses memandikan, hingga mengantarkan jenazah untuk dikebumikan.

"Awalnya dulu sempat takut dan khawatir tetapi karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab saya, maka saya lawan rasa takut itu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan," kata Kaslam saat berbincang dengan wartawan, Sabtu (14/8/2021).

Kaslam mengaku, sebelum pandemi ia hanya petugas pemulasaraan biasa di salah satu rumah sakit di Kecamatan Paciran. Ketika pandemi, tugasnya bertambah sehingga ia pun menyiapkan tim dengan sejumlah peralatan untuk melindungi diri. Beban dan tanggung jawab pekerjaannya bertambah hingga belipat-lipat jika dibandingkan dengan sebelum ada pandemi.

"Kita melawan rasa takut dan khawatir tertular COVID-19 dari jenazah yang kami rawat. Kami lawan rasa takut terpapar dan membawa virus Corona ke lingkungan keluarga itu dengan selalu mematuhi prokes," ujarnya.

Sehari-hari, Kaslam menyiapkan rangkaian proses dalam penanganan pasien COVID-19 yang dinyatakan meninggal dunia. Mulai dari pengambilan jenazah dari kamar rawat, memandikan, membungkus dengan kain kafan hingga memasukkan ke dalam peti dan mengantarkan jenazah ke kompleks pemakaman dan memasukkan ke liang lahad. Kaslam mengaku, ia pernah dalam sehari mengurus lebih dari 7 korban COVID-19.

"Sejak gelombang varian Delta datang, sudah lebih dari 180 jenazah pasien COVID-19 yang sudah kami tangani untuk dirawat dan dimakamkan," lanjutnya.

Sebelum pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga, Kaslam mengaku terlebih dahulu mandi dengan bersih dan benar-benar mensterilkan tubuhnya. Tak jarang juga, ketika ia baru saja pulang, panggilan tugas itu datang dan atas nama kemanusiaan, ia dan tim tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya mengurus jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

"Wajar ada sedikit kekhawatiran pada diri saya saat merawat jenazah. Tapi kekhawatiran yang lebih besar justru adalah terpapar virus dari anggota keluarga pengantar jenazah yang belum dapat dipastikan steril dari virus Corona," tambahnya.