25 Keluarga di Jombang Terima Bantuan Daging Ayam Busuk

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 13 Agu 2021 15:16 WIB
Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang disalurkan ke keluarga penerima manfaat (KPM) di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Jombang belum sepenuhnya layak konsumsi. Ada 25 keluarga yang menerima daging ayam busuk.
Bantuan daging ayam busuk yang diterima warga/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Jombang -

Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang disalurkan ke keluarga penerima manfaat (KPM) di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Jombang belum sepenuhnya layak konsumsi. Ada 25 keluarga yang menerima daging ayam busuk.

Daging ayam busuk itu, salah satunya diterima Karmani (80), warga Dusun Tronyok, Desa Sukorejo. Ia mengambil satu paket BPNT dari Kementerian Sosial di agen e-Warong Riya Pangestu di Dusun Pedes, Desa Sukorejo pada Senin (9/8).

Satu paket bantuan pangan Bulan Agustus tersebut terdiri dari beras 10 kg, bawang putih 1 kg, tahu 1 kotak, telur 20 butir, kentang 1 kg, serta daging ayam 1 kg.

Cucu Karmani, Daniel Suyitno Dasuki (23) mengatakan, semua pangan yang diterima neneknya dalam kondisi bagus, kecuali daging ayam. Menurut dia, daging ayam potong itu sudah berwarna kebiru-biruan dan beraroma tak sedap.

"Awal diterima sudah kemasan kantung plastik, bungkusnya rapat sehingga tidak tahu kalau busuk, langsung dimasukkan freezer. Tahunya setelah dikasih tahu Pak Bayan kalau dagingnya busuk. Kemudian dicek kakak saya di freezer, ternyata dagingnya memang busuk," kata Daniel kepada wartawan, Jumat (13/8/2021).

Daging ayam busuk, diakui Daniel, baru kali ini diterima neneknya. Selama ini bantuan pangan disalurkan agen e-Warong dalam kondisi layak konsumsi. Ia berharap pemerintah memperbaiki kualitas bantuan pangan tersebut.

"(Daging ayam) mau dibuang karena tidak bisa makan," ujarnya.

Daging ayam busuk juga diterima Suhartatik (40), KPM asal Dusun Pedes, Desa Sukorejo. Ia mengaku mengambil BPNT di agen e-Warong Riya Pangestu pada Senin (9/8) sekitar pukul 08.30 WIB. Riya Pangestu tergolong agen mandiri karena bisa mengambil komoditas dari penyuplai yang ia tentukan.

"Waktu nerima daging ayam ini sudah tercium bau, mau saya tukarkan khawatir dinilai cerewet, apalagi saat itu banyak orang," terangnya.

Sampai di rumah, Suhartatik langsung menyuci daging ayam tersebut. Ia lantas menyimpan daging ayam di freezer miliknya. Namun, 1 kg daging ayam itu tetap mengeluarkan bau busuk.