Kisah Pengusaha Kuliner yang Pantang Berhentikan Karyawan Selama Pandemi

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Minggu, 08 Agu 2021 10:13 WIB
Banyak cara dapat dilakukan untuk meringankan beban sesama saat pandemi COVID-19. Pengusaha kuliner Diah Katikasari (34) pantang memberhentikan karyawan meski usaha tengah sulit.
Diah Katikasari (34) saat melayani pembeli/Foto: Purwo Sumodiharjo
Pacitan -

Banyak cara dapat dilakukan untuk meringankan beban sesama saat pandemi COVID-19. Pengusaha kuliner Diah Katikasari (34) pantang memberhentikan karyawan meski usaha tengah sulit.

Warung milik Tika, sapaan Diah Katikasari, memang sepi. Hanya ada beberapa orang membeli menu sarapan. Sebagian besar memesan dengan cara take away. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi sebelum pandemi. Warung di Jalan RO Iskandardinata itu tak pernah sepi, bahkan hingga malam hari.

"Kalau ditanya (omzet) turun, itu pasti. Sekarang ini mungkin sekitar 30 persen dari kondisi normal dulu," ucap Tika membuka perbincangan dengan detikcom, Minggu (8/8/2021) pagi.

Dulunya, sambung dia, usaha yang ditekuni ibu dua putra itu bahkan sudah berkembang hingga merambah wilayah tetangga. Sebuah warung baru yang menyajikan 'Soto Batok' sempat berdiri di Kecamatan Arjosari. Namun, unit usaha itu akhirnya harus ditutup.

Saat itu, Tika mempekerjakan 7 orang karyawan. Tentu saja keputusan menutup warung membawanya pada kenyataan sulit. Memberhentikan sebagian pekerja atau tetap mempertahankannya. Masing-masing pilihan memiliki konsekuensi yang tak mudah.

"Kalau sampai saya hentikan, kasihan. Karena mereka juga harus mikir kebutuhan hidup sehari-hari," paparnya.

Al hasil, Tika memilih mempertahankan orang-orang yang selama ini setia membantunya. Tentu saja dengan risiko tetap membayarkan gaji. Di sisi lain, perputaran penjualan di warung makin tidak menentu. Meski begitu, Tika yakin pasti ada jalan keluar. Kuncinya doa dan usaha.

"Bismillah gitu aja," ucapnya.

Di situlah kreativitas Tika muncul. Dia tak lagi mengandalkan pendapatan dari warung melainkan membidik pasar daring. Varian menu yang ditawarkan pun makin beragam. Tidak saja makanan konvensional seperti soto, bakso, dan rawon. Tapi juga melengkapinya dengan rames ikan asin, lontong bumbu kepyur, dan jenang campur.

Sejak itu kesibukan tak lagi terfokus di warung. Dapur menjadi tempat baru yang riuh sepanjang hari. Kini para karyawan yang didominasi perempuan tiap hari memasak untuk melayani pesanan. Untuk mencegah penularan virus Corona, Tika memberlakukan protokol kesehatan ketat pada anak buahnya.

"Sekarang lebih banyak melayani pesanan online. Bisa dibilang sudah jalan lagi. Alhamdulillah," terangnya.

Pemberlakuan PPKM, diakui Tika tak berdampak langsung pada bisnis yang dia jalankan. Sebab, sebagian besar pelanggan membeli dengan sistem pesan antar. Bahkan saat PPKM Darurat, Tika justru menambah karyawan hingga menjadi 9 orang.

"Ada yang melamar lewat WA, pingin ikut kerja. Badhe nolak mboten mentolo (mau menolak tidak tega)," pungkasnya terkait alasan kemanusiaan yang mendasari keputusannya menerima karyawan baru.

Simak juga Video: Curhat Pengusaha Empon-empon di Boyolali: Omzet Turun Imbas PPKM

[Gambas:Video 20detik]




(sun/bdh)