Gonta-ganti Sapaan, Muhaimin Belum Temukan 'Nama Panggung' Pas

Hilda Meilisa - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 14:55 WIB
muhaimin iskandar
Baliho Muhaimin Iskandar (Foto file: Faiq Azmi/detikcom)
Surabaya -

Baliho Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar bertebaran di sejumlah daerah. Baliho tersebut menuliskan nama Muhaimin menjadi Gus Muhaimin. Padahal, beberapa waktu lalu, Muhaimin biasanya ditulis sebagai Gus AMI, singkatan dari Ahmad Muhaimin Iskandar, setelah sebelumnya kerap disapa Cak Imin.

Pengamat politik menilai penyebutan yang berubah-ubah ini bisa saja karena Muhaimin belum menemukan political name calling atau panggilan politik yang pas. Hal ini menunjukkan Muhaimin yang masih bingung ingin dikenal sebagai 'apa' dan 'siapa'.

"Pergantian penyebutan berungkali tersebut menurut saya menunjukkan Muhaimin masih belum menemukan positioning-nya yang pas. Lebih jauh lagi sepertinya beliau belum tahu ingin dikenal sebagai 'apa' dan sebagai 'siapa' oleh publik. Sehingga inkonsistensi political name calling itu muncul," kata pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Mochtar W Utomo kepada detikcom di Surabaya, Kamis (5/8/2021).

Mochtar menyayangkan pergantian panggilan politik ini. Menurutnya, jika ingin lebih dikenal masyarakat, branding atau penyebutan itu salah satu hal yang penting.

"Padahal dalam khazanah marketing politik dan komunikasi politik, branding itu penting, political name calling itu penting, karena dari panggilan ini lah publik mengenal seorang sosok," papar Mochtar.

Berubahnya political name calling atau panggilan politik hingga berulang kali, dinilai pengamat merugikan. Terlebih jika Muhaimin hendak maju dalam kontestasi Pilpres 2024,

"Pergantian berulangkali penyebutan tersebut secara marketing dan komunikasi politik seaungguhnya cenderung merugikan. Karena ketika publik ingin menyimpannnya sebagai sebuah kode, ternyata merknya telah berubah lagi," kata pria yang menjadi Direktur Surabaya Survey Center (SSC) ini

Jika Muhaimin Iskandar masih akan mengganti nama panggilan politiknya, Mochtar mengatakan tentu akan menurunkan popularitas hingga elektabilitasnya.

"Jika situasi seperti ini berlangsung terus, maka seperti yang sudah-sudah, baik popularitas, akseptabilitas maupun elektabilitas Muhaimin akan sulit naik. Dan itu akan jadi problem tersendiri bagi upaya elektoralnya menuju 2024," tambahnya.

Mochtar menyebut ada sejumlah hal yang mesti dipertimbangkan sebelum memilih nama panggilan politik. Agar, bisa selalu diingat masyarakat.

"Tetapkan political name calling yang kuat dengan pertimbangan berbagai kajian, marketing, komunikasi, psikologi, semiotik dan yang lain sesuai dan selaras konteks sosial politik yang berkembang. Pilihlah merk yang dekat dengan suasana batin pemilih, pendek, mudah diingat, familiar, kuat kode dan simbol dan jangan elitis," pungkasnya.

(hil/fat)