Satu Alat Kremasi Jenazah COVID-19 di Surabaya Rusak Karena Beban Kerja Berat

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 12:25 WIB
kremasi di TPU Keputih
Krematorium di TPU Keputih (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Selama Juli 2021, jumlah jenazah yang dimakamkan secara protokol kesehatan di Surabaya sebanyak 3.529. Beberapa proses pemakaman dengan cara kremasi pun terhambat karena satu dari tiga krematorium yang tersedia di TPU Keputih rusak sejak sepekan lalu.

Kerusakan terjadi di tungku atau burner nomor satu. Kerusakan yang terjadi pada dinding batu api tampak retak dan ada yang pecah, kemudian pintu dinding api juga rusak. Hingga saat ini tungku tersebut belum bisa digunakan, sebab sebagian dinding dalam perbaikan untuk penggantian batu api.

Kepala Krematorium Keputih, Eko Pramono mengatakan, kerusakan tersebut terjadi karena beban penggunaan lebih banyak.

"Seharusnya satu tungku ini digunakan untuk satu jenazah selama 24 jam. Kalau krematoriumnya sampai jadi abu hanya satu jam, tapi setelah itu kan harus pendinginan agar dinding api tidak rusak. Pendinginan ini prosesnya butuh waktu lama," kata Eko, Rabu (4/8/2021).

Dia menjelaskan, meningkatnya kematian yang dimakamkan secara prokes membuat mesin krematorium tidak berhenti bekerja. Bahkan, dalam sehari bisa menerima enam jenazah.

Baca juga: Kremasi Jenazah COVID-19 di Surabaya Tiada Henti, Satu Alat Pembakaran Rusak

"Saat kasus meningkat, sehari sempat mencapai 12 jenazah. Memang bulan ini kasusnya paling banyak, cuma saya tidak tahu detailnya. Yang pasti kalau sejak ada COVID-19 sudah tembus ribuan (Jenazah dikremasi)," jelasnya.

Eko mengaku jika tungku digunakan lebih dari kapasitasnya mudah terjadi kerusakan di dinding api. Bahkan, bisa membuat mesin rusak. Seperti kerusakan yang terjadi si salah satu mesin krematorium. Sebab, suhu api yang digunakan dapat mencapai 2.500 derajat celcius.

"Sekarang terpaksa kita hentikan, karena dindingnya pecah ada keretakan. Kalau kita paksakan api bisa merembet kemana-mana," ujarnya.

"Karena satu mesin mati, proses krematorium agak terhambat. Karena biasanya bisa enam jenazah, sekarang hanya empat jenazah yang dapat diproses per hari," pungkasnya.

Lihat juga video 'Kata Polisi soal Warga NTB Jemput Paksa Jenazah Pasien Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)