Selain Vaksinasi, Ini 5 Langkah Krusial Pemkot Surabaya Tangani COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 10:47 WIB
Peziarah berdoa di pemakaman khusus kasus COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2020). Pemkot Surabaya menyediakan lahan khusus di TPU Keputih untuk pasien yang meninggal dunia dan dimakamkan dengan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/wsj.
Pemakaman COVID-19 di TPU Keputih Surabaya (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Surabaya -

Polemik transparansi data COVID-19 di Jawa Timur terus menggelinding. Salah satu yang disorot adalah beda data kematian yang diumumkan Pemkot Surabaya yang jumlahnya cukup besar. Sementara data yang dipublikasikan Pemprov Jatim lebih sedikit.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan sejak awal Pemkot Surabaya selalu transparan dalam menyampaikan data ke publik. Yakni melalui situs lawancovid-19.surabaya.go.id, semua data dibuka apa adanya, termasuk pemakaman dengan standar protokol kesehatan.

"Kita buka semua di lawancovid-19.surabaya.go.id, data A sampai Z penanganan COVID-19 di Surabaya. Termasuk data pemakaman dengan prokes, ada 3.800-an. Adakah daerah yang berani buka data itu kalau tidak Surabaya?" kata Eri dalam keterangan yang diterima detikcom, Selasa (3/8/2021).

Pada data di laman lawancovid19, data pemakaman dengan prokes memang ditampilkan. Sempat mencapai angka lebih dari 100 kematian per hari. Kini tren pemakaman prokes mulai melandai sejak 26 Juli 2021.

"Kita tampilkan, tidak ada yang ditutupi, itu yang pemakaman dengan prokes," tegasnya.

Eri pun menjelaskan bagaimana penanganan pandemi COVID-19 di Surabaya ini. Selain memasifkan vaksinasi, ada lima langkah krusial yang ia genjot.

Pertama, menggencarkan testing dan tracing. Bahkan, testing di Surabaya termasuk yang tertinggi di Indonesia. Data per 3-19 Juli, Surabaya mencapai 99,34 persen target tes sesuai yang diinstruksikan pemerintah pusat. Tracing juga ditargetkan tuntas dalam 1x24 jam.

"Mengapa tes penting? Agar segera bisa dilakukan treatment bila ditemukan kasus positif. Sehingga potensi penularan dan pemburukan kondisi pasien bisa diminimalkan. Jadi bagi kami: angka COVID-19 naik itu bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi, tapi karena kita terus perluas tes dan tracing, agar sedini mungkin dilakukan treatment," jelasnya.

Kedua, penyiapan 'Rumah Sehat' di setiap kelurahan untuk fasilitas isolasi warga. Hal itu dilakukan untuk memutus potensi penularan lokal di tingkat keluarga, sekaligus mengurangi pemburukan pasien karena di Rumah Sehat selalu dipantau petugas kesehatan.

"Ketiga, mengoperasikan tambahan RS Darurat, yaitu RS Lapangan Tembak (Kedung Cowek) dan RS GOR Gelora Bung Tomo," ujarnya.

Lalu yang keempat, menggalang gerakan 'Surabaya Memanggil' yang berhasil merekrut ribuan relawan untuk berbagai tugas kemanusiaan. Mulai petugas vaksinasi, edukasi protokol kesehatan, pengemudi ambulans, tenaga pemulasaraan, dan sebagainya.

Terakhir atau yang kelima, memfasilitasi percepatan layanan pemulasaraan jenazah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih. Pemkot Surabaya menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pemulasaraan jenazah, mulai dari modin dan pemandian beserta kebutuhan lainnya. Hal itu dilakukan karena sejumlah warga harus menunggu berjam-jam untuk proses pemulasaraan jenazah di RS, karena jumlah warga yang meninggal meningkat.

"Alhamdulillah, untuk umat Islam, teman-teman NU dan Muhammadiyah menyiapkan relawan yang mempunyai kemampuan merawat jenazah. Jadi mulai memandikan, menyalati, hingga dimakamkan bisa dilakukan di TPU Keputih langsung khusus untuk pasien COVID-19 warga Surabaya. Dan yang terpenting, tidak harus menunggu berjam-jam proses pemulasaraan di rumah sakit," urainya.

"Sedangkan bagi yang non-muslim, kami siapkan peti dan petugas khusus untuk merawat jenazah," pungkasnya.

(iwd/iwd)