Soal Transparansi Data Kematian COVID-19 di Surabaya, Ini Jawaban Walkot Eri

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 21:39 WIB
Nakes di Kota Surabaya akan menjalani vaksinasi COVID-19 dosis ketiga. Mereka akan disuntik vaksin Moderna dari Amerika Serikat.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

IDI Jatim meminta kepala daerah untuk tidak menutup-nutupi dan tidak takut melaporkan data riil kematian COVID-19 di wilayahnya. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan data kematian COVID-19 di Surabaya telah disampaikan secara rill.

"Sebenarnya gini, Surabaya sudah membuka data (kematian) itu di lawancovid. Kita masukkan berapa yang meninggal. Sudah kita masukan semua. Tidak ada data di Surabaya yang kita tutupi," ujar Eri kepada wartawan di Gelora Pancasila, Kamis (29/7/2021).

"Jumlahnya tadi saya sampaikan wis 3.500. Di lawancovid sudah keluar 3.800-an. Onok ta daerah sing wani mbuka, lek gak Surabaya," kata Eri.

Bagi Eri, semakin ia membuka data, maka ia semakin tahu bahaya apa saja yang ada di Surabaya. Sehingga ia bisa mengambil kebijakan yang tepat, termasuk berapa jumlah yang sakit.

"Tapi betul yang disampaikan, kenapa tidak masuk datanya New All Record (NAR). Karena yang meninggal ini adalah orang yang belum diswab, baik itu PCR maupun antigen. Tetapi mereka masuk suspect dan probable. Karena sebelum meninggal punya ciri-ciri seperti COVID, batuk, pilek, sesak nafas. Dan hampir dipastikan kalau sudah seperti ini, pasti menuju ke COVID-19. Sehinggalah kita sampaikan data dari yang meninggal probable, suscpect kita sampaikan di lawancovid," jelas Eri.

Eri mengatakan, bahwa yang ada di laman lawancovid untuk yang probable dan suspect yakni sebanyak 3.800 sekian.

"Kalau di rumah sakit (yang tidak dikelola Pemkot Surabaya), kita nggak bisa mendeteksi. Tapi kalau meninggalnya di RSUD Soewandi, di BDH, Asrama Haji, Lapangan Tembak, ya di lawancovid itu. Semua di lawancovid. Jadi satu," lanjut Eri.

Eri menyebut jumlah jenazah yang dimakamkan secara prokes COVID-19 terus menurun. Dari sebelumnya 80, kini menjadi 70.

"Kemarin yang dimakamkan secara protokol kesehatan sekitar 70. Sebelumnya ada 80," kata Eri.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita mengatakan pemakaman secara protokol kesehatan di Surabaya bukan berarti memakamkan pasien COVID-19 saja. Tetapi memakamkan pasien yang juga berstatus suspect atau probable atau yang belum dipastikan positif COVID-19.

"Yang dimakamkan itu kan tidak hanya COVID-19 saja.Aada suspect dan probable yang belum swab. Suspect tidak dirilis dalam NAR atau rilis Menkes," kata Fenny sapaan akrabnya.

"Kan auto rilis dari Jakarta. Suspect dan probable dari Kementerian Kesehatan tidak ditampilkan. Di lapangan banyak suspect, ada probable, ada yang belum swab itu kita anggap suspect atau probable," pungkas Fenny.

(iwd/iwd)