Khofifah Akui Tracing di Jatim Masih Rendah, Bahkan Ada yang Nol

Faiq Azmi - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 20:22 WIB
gubernur khofifah
Gubernur Khofifah (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya -

Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengakui rasio tracing kontak erat pasien terkonfirmasi positif di Jatim masih belum maksimal. Bahkan, ada kabar daerah mempunyai tingkat tracing nol.

"Tracing di Jatim ini kategori sangat kecil, sangat rendah, kalau 1 pasien menurut WHO harus 15 [1:15] ditracing, kami ini ada satu daerah yang nol," ujar Khofifah saat memberi paparan dalam acara Gebrak COVID-19 Unair melalui zoom, Jumat (30/7/2021).

Mendengar kabar itu, Khofifah langsung menghubungi kepala daerah tersebut. Namun, saat diklarifikasi, Khofifah menemukan ada kendala khususnya terhadap nakes atau petugas tracing yang kesulitan mengisi input data tracing di aplikasi silacak, sebuah aplikasi untuk penguatan tracing.

"Saya tanya wali kotanya, betul nih tracingnya nol? Beliau bilang mboten bunda dan seterusnya. Saya bilang cobalah dicek, saya turun, saya ketemu bidan desa di beberapa kabupaten kota yang berbeda. Kemarin pun saya cek bersama Forkopimda Jatim, saya tunjukkan format yang harus diisi dalam aplikasi silacak, kalau sekarang yang diturunkan babinsa dan bhabinkamtibmas, pangapunten ini memang bukan bidangnya, kalau membukakan pintu untuk tracingnya, iya," katanya.

Khofifah kemudian meminta izin kepada pihak Unair, untuk mendapat support mahasiswa guna membantu mengisi form tracing.

"Tracer harus diikuti swaber. Setelah tracing lalu testing. Kalau tidak diinput di silacak maka dianggap tidak tracing. Apakah dimungkinkan kami mendapatkan support dari mahasiswa tidak hanya FK (Fakultas Kedokteran) karena itu relatif simpel bagi orang yang digital friendly. Jadi menginput data, riwayat seseorang, kalau pada aplikasi itu, yang ditugaskan pemerintah secara nasional untuk mengisi itu, gak nutut mereka, karena tugasnya banyak sambil mentracing, sambil isi," terang Khofifah.

Menurut Khofifah, meski masih ada daerah dengan tingkat tracing sangat rendah, ada juga daerah dengan tingkat tracing tinggi. Seperti di Kota Surabaya.

"Kota Surabaya bahkan sudah bisa 1:11 tingkat tracingnya terakhir. Tadinya 1:8. Itu dengan mengundang relawan 3 ribu," imbuhnya.

Secara umum, Khofifah mengatakan, rata-rata daerah di Jatim memiliki rasio tracing sekitar 1:3 hingga 1:8. Padahal, menurut WHO idealnya tiap satu pasien positif COVID-19 maka pelacakan harus dilakukan kepada 15 kontak erat, atau 1:15.

Sementara Menkoperekonomian Airlangga Hartarto mengakui tugas babinsa dan bhabinkamtibmas terbatas.

"Mungkin, ibu Gubernur, tugas Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga terbatas," timpal Airlangga.

(iwd/iwd)