Sebut Testing-Tracing di Indonesia Masih Kurang, Menkes Minta Bantuan Unair

Hilda Meilisa - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 12:21 WIB
menkes budi gunadi sadikin
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat virtual meeting dengan guru besar Unair (Foto: Tangkapan layar)
Surabaya -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut testing hingga tracing dalam penanganan COVID-19 di Indonesia masih kurang. Untuk itu, Budi meminta bantuan Unair untuk memasifkan testing hingga tracing.

Budi mengatakan fakta ini saat mengikuti Gebrak COVID-19 atau Gerakan Aksi Bersama Serentak Tanggulangi COVID-19 secara virtual, yang di dalamnya berisi rekomendasi guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Unair untuk penanganan COVID-19.

"Kita vaksinasi sudah lumayan tapi testing tracing kita masih belum atau masih di bawah rata-rata negara-negara yang memang baik. Ini kami butuh bantuan seperti tadi yang disampaikan Ibu Gubernur adalah bagaimana testing ini dilakukan benar-benar mengikuti kaidah epidemiologi," kata Budi saat memberi sambutan secara virtual yang dilihat detikcom di Surabaya, Jumat (30/7/2021).

"Bukan hanya untuk screening orang untuk perjalanan, tetapi benar-benar dilakukan berdasarkan kaidah epidemiologi, jadi begitu ada orang yang kena, kita lakukan pelacakan kontak erat kemudian kita lakukan tes. Disiplin melakukan testing tracing seperti ini," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Budi meminta bantuan Unair untuk menumbuhkan disiplin testing dan tracing di masyarakat. Budi memberi masukan misalnya ada sejumlah kota yang dijadikan percontohan.

"Kalau misalnya Unair bisa membantu tolong kita bangun disiplin testing, tracing, dan isolasi yang baik. Kita bisa tidak kita coba di beberapa kota untuk menunjukkan kalau ini sukses, ini akan membuat kota tersebut bisa pulih lebih cepat dibandingkan yang lain selain vaksinasi," ujar Budi.

"Karena setelah saya bicara dengan banyak Menteri Kesehatan sebelumnya vaksinasi baik tapi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi pandemi. Tetap kita harus kuat di testing, lacak, dan isolasi dan kita mesti kuat di protokol kesehatan dan strategi perawatan. Empat pilar harus dijalankan berbarengan," tambahnya.

Budi mengaku percaya jika Unair memiliki tenaga hingga teknologi yang mumpuni untuk mewujudkan hal ini.

"Saya membutuhkan bantuan dari teman-teman Unair untuk bisa membantu bagaimana proses testing, melacak, isolasi. Ini merupakan pilar yang sangat penting mulai dari proses pelacakannya kemudian kapasitas testingnya, pelaporan dari testingnya, follow up jika ada yang positif. Saya percaya Unair yang memiliki Fakultas kedokteran dan fakultas kesehatan masyarakat bisa berkontribusi banyak jadi bukan hanya secara teori atau riset, tapi secara konkret dan praktikal," pungkas Budi.

(hil/iwd)