IDI Jatim Minta Kepala Daerah Tak Tutupi Data Kematian COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 20:13 WIB
Ketua IDI Jatim Sutrisno
Ketua IDI Jatim Sutrisno (Foto: Faiq Azmi/File)
Surabaya -

IDI Jatim meminta kepala daerah untuk tidak menutup-nutupi dan tidak takut melaporkan data riil kematian COVID-19 di wilayahnya. Karena jumlah pemakaman dan jumlah kematian yang dirilis berbeda jauh.

Ketua IDI Jatim Dr dr Sutrisno SpOG (K) mengatakan saat ini yang bisa dibandingkan oleh masyarakat adalah jumlah pemakaman di tempat pemakaman COVID-19 dibandingkan dengan jumlah kematian dalam data kematian harian yang dimiliki pemerintah.

Menurut Sutrisno, di Jatim sendiri, jumlah pemakaman baru, terutama dengan protokol kesehatan COVID-19 ada puluhan hingga ratusan. Jumlah itu bisa sekitar 20-30 kali lipat dari data yang ada.

"Artinya begini, data-data yang dipublikasi itu ada gap yang jauh dengan realitas yang dihadapi di fasilitas kesehatan (terutama rumah sakit) dan realitas dengan di masyarakat. Di masyarakat itu bisa dilihat dari jumlah kuburan baru. Itu sesuatu yang secara kasat mata bisa diamati dan dibandingkan," kata Sutrisno di Surabaya, Rabu (28/7/2021).

Sutrisno menjelaskan tentang fakta yang terjadi di lapangan di mana IGD RS penuh pasien COVID-19. Bahkan, pasien harus antre. Yang meninggal pun banyak. Ada yang meninggal di ambulans, IGD, bahkan di rumah karena tidak mendapat tempat di rumah sakit.

Sutrisno juga menyebut fakta lain, yaitu jumlah pemakaman baru dan juga lonjakan angka sakit dan kematian tenaga kesehatan. Berdasarkan data yang ia miliki, jumlahnya meningkat signifikan pada Juli 2021 ini.

"Mari kita bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan. Artinya kalau memang ilmu pengetahuan ada sakit, ya, sakit. Kalau COVID, ya, COVID. Tidak usah takut. Karena faktanya seperti itu," kata Sutrisno.

Data RS di seluruh Indonesia, lanjut Sutrisno, telah terintegrasi dalam sistem laporan RS. Sehingga bisa disimpulkan bahwa data di RS itu valid. Kemudian, data di makam juga valid. Karena tidak mungkin kepala makam membuat kuburan kosong lalu ditimbun lagi.

"Data primer itu valid. Sekarang larinya data itu kemana. kok data itu jadi tidak valid? Ini yang saya tidak bisa komentar. Data di hulu itu valid, lalu di atas kertas berubah. Bencana ini tidak main-main. Bagi kami ini sangat-sangat mengerikan," pungkas Sutrisno.

(iwd/iwd)