Pengambilan Paksa Jenazah COVID-19 di Kota Probolinggo Digagalkan

M Rofiq - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 20:05 WIB
pengambilan paksa jenazah covid-19 di probolinggo
Polisi meredam pengambilan paksa jenazah COVID-19 di Kota Probolinggo (Foto: M Rofiq)
Probolinggo -

Pengambilan paksa jenazah COVID-19 di Kota Probolinggo hampir terjadi. Namun kejadian itu dapat diredam tim satgas COVID-19.

Kejadian itu berawal saat pasien berinisial BJ (53), warga Mayangan, Kota Probolinggo, meninggal dengan hasil swab PCR positif di RSUD dr Mohamad Saleh. Keluarga rupanya tidak terima jika pasien dikatakan meninggal karena COVID-19.

Keluarga beranggapan pasien meninggal karena penyakitnya, bukan COVID-19. Anak laki-laki pasien mengamuk dengan berteriak-teriak menantang polisi. Anak pasien berencana mengambil jenazah ayahnya dan akan dipulasara sendiri.

Sakut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Satgas COVID- 19 setempat dan puluhan anggota polisi berjaga-jaga di depan kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh.

Setelah dilakukan mediasi dan edukasi, akhirnya emosi keluarga berhasil diredam. Keluarga menerima jenazah dipulasarkan secara protokol kesehatan.

Plt RSUD dr Mohamad Saleh dr Abraar Khuddah mengatakan pasien sebenarnya sudah 2 kali pulang paksa saat dirawat di RSUD dr Mohamad Saleh. Dan hasil swab yang diperoleh menunjukkan positif COVID- 19.

"Korban sudah 2 kali oleh keluarga dibawa pulang paksa, karena hasil swab korban positif COVID- 19, jadi mau tidak mau kita pemusalarannya untuk jenazah sesuai protokol kesehatan prosedur COVID- 19" ujar Abraar kepada detikcom, Selasa (27/7/2021).

Kapolres Probolinggo Kota AKBP RM Jauhari mengatakan warga jangan terpancing hoaks dan mau mematuhi aturan sesuai undang-undang yang berlaku.

"Setelah semua pihak melakukan pendekatan ke keluarga korban, akhirnya keluarga pasien menuruti permintaan pihak rumah sakit, jenazah orang tuanya pemulasarannya protokol kesehatan," kata Jauhari.

Jauhari menambahkan jika ada yang mengambil paksa jenazah COVID- 19, maka diancam Pasal 93 undang-undang nomor karantina 6 tahun 2018 dan Pasal 14 undang-undang wabah penyakit nomor 4 tahun 1984, ancaman hukuman 1 tahun penjara.

(iwd/iwd)