Kaleidoskop 2020

Sederet Keluarga Jemput Paksa Jenazah COVID-19 di Jatim Selama Pandemi

Ardian Fanani, M Rofiq, Muhajir - detikNews
Selasa, 15 Des 2020 15:14 WIB
video viral jenazah covid-19
Foto: Tangkapan Layar
Surabaya -

Selama pandemi COVID-19 tahun 2020 sejumlah kejadian dan peristiwa terjadi di Jawa Timur. Jumlah pasien positif COVID-19 yang dirawat di seluruh RS di Jawa Timur dan RS Darurat membludak. Tak jarang pasien positif COVID-19 yang memiliki komorbid akhirnya meninggal dunia.

Jenazah positif COVID-19 yang meninggal pun harus dimakamkan di tempat-tempat khusus yang sudah disediakan pemerintah dan harus melalui protokol kesehatan. Karena ketatnya dalam menerapkan protokol kesehatan, tak jarang keluarga menolak dan enggan mengikuti anjuran untuk menjaga jarak. Bahkan ada yang nekat membongkar peti jenazah.

Berikut rangkuman berita-berita penolakan dan jemput paksa jenazah COVID-19 yang terjadi di Jawa Timur.

1. Jemput paksa jenazah COVID-19 di RS Paru Surabaya

Penjemputan paksa jenazah positif COVID-19 di RS Paru itu dilakukan sekelompok warga Pegirian, Surabaya, Kamis (4/6/2020). Mereka membawa pulang jenazah tanpa protokol kesehatan. Aksi berbahaya itu mereka lakukan karena tidak ingin jenazah tersebut dimakamkan dengan protokol COVID-19.

Kala itu mereka berdalih, jenazah perempuan berusia 48 tahun itu tidak positif Corona. Mereka pun nekat membawa jenazah beserta bed rumah sakitnya. Peristiwa pemulangan paksa jenazah positif COVID-19 itu berbuntut panjang. Hingga kini, ada empat anggota keluarga dari jenazah tersebut yang ditetapkan sebagai tersangka.

Bahkan salah satu istri tersangka yang sedang hamil juga dinyatakan positif COVID-19 dan dirawat di RSUD Soewandhie. Berdasarkan informasi yang dihimpun, yang bersangkutan berinisial S. Ia merupakan istri dari tersangka berinisial ADS (25).

Aksi jemput paksa jenazah positif COVID-19 di RS Paru Surabaya terancam hukuman 7 tahun penjara. Ancaman hukuman diberikan karena keempat tersangka telah melanggar sejumlah pasal.

"Pasal yang kami kenakan yakni Undang-undang wabah penyakit, dan UU Karantina Kesehatan serta terkait dengan KUHP. Di sini ancamannya adalah maksimal 7 tahun penjara," ungkap Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Ganis Setyaningrum, Senin (29/6/2020).

Bahkan, lanjut dia, salah satu tersangka positif COVID-19 dan mandapat perawatan di RS Bhayangkara. Tersangka yang positif masih mendapatkan perawatan selama masa pembantaran.

"Iya benar satu yang positif. Salah satu dari empat tersangka. Yang positif saat ini masih mendapat perawatan di RS Bhayangkara," terang Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada detikcom, Minggu (5/6/2020).

Lalu bagaimana dengan yang tiga lainnya? Trunoyudo mengatakan tiga lainnya hasil swab nya negatif. Tetapi mereka tetap dilakukan perawatan sambil menunggu rampungnya masa isolasi.

"Tiga lainnya masih tetap isolasi sampai rampung. Prosesnya (hukum) kan masih tetap akan jalan," tutur Trunoyudo.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5 6