Pengrajin Kawat Tembaga Pacitan Tetap Eksis Saat Pandemi COVID-19

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 07:55 WIB
Pengrajin Kawat Tembaga Pacitan Tetap Eksis Saat Pandemi COVID-19 Tetap Eksis
Pengrajin kawat tembaga (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan -

Dilihat sekilas kawat tembaga itu tampak biasa saja. Paling lazim dibikin lilitan untuk dinamo atau kebutuhan elektrikal lain. Tapi di tangan Ika Mey Ristyani (35) logam tersebut disulap jadi aksesoris bernilai tinggi.

Tangan kanan Ika tampak lincah menggerakkan ujung kawat. Sementara tangan kirinya memegang batu mulia. Kedua benda itu lalu ditautkan satu sama lain. Itu adalah tahapan terakhir merangkai kalung dengan liontin batu kuarsa.

"Dulu memang pernah ikut pelatihan untuk membuat asesoris dari batu mulia. Terus belajar juga cara menggabungkan dengan kawat tembaga," ujar perempuan yang juga guru honorer itu, Selasa (27/7/2021).

Hampir semua ornamen bikinan Ika merupakan perhiasan untuk wanita. Selain kalung, dirinya juga memproduksi bros, cincin, dan gelang. Harga jualnya pun bervariasi. Tergantung model, ukuran, serta kerumitan pembuatannya.

Untuk jenis cincin harga terendah dibanderol Rp 75 ribu. Sedangkan untuk jenis kalung harganya dapat menembus Rp 750 ribu. Hal itu karena proses pembuatannya memakan waktu hingga tiga hari.

Pengrajin Kawat Tembaga Pacitan Tetap Eksis Saat Pandemi COVID-19 Tetap EksisPengrajin Kawat Tembaga Pacitan/ Foto: Purwo Sumodiharjo

Produk buatan Ika tak hanya bersaing di pasar lokal. Tak sedikit pesanan datang dari luar Jawa. Seperti Lhokseumawe, Tanjung Pinang, Kalimantan, juga Papua. Bahkan beberapa kali dirinya mengaku mendapat pesanan dari negeri jiran, Malaysia.

"Yang banyak sih pemasarannya online, terutama sejak pandemi COVID-19," ucap istri dari Hendra Triputranto itu.

Untuk membuat perhiasan unik tersebut, Ika memiliki cara khusus. Dia menyebutnya teknik 'Trap-trapan'. Kawat dirangkai sedemikian rupa lalu dibuat bentuk tertutup sebagai kerangka. Berikutnya adalah mengisinya dengan kawat lebih kecil sebagai hiasan.

Untuk proses pembuatan, lanjut Ika, sepenuhnya menggunakan tangan (handmade). Tak ada mesin atau alat bantu lain, kecuali tang potong yang berfungsi untuk melingkarkan kawat. Alat penjepit itu sekaligus bermanfaat untuk memasang batu mulia.

"Kalau bahannya ya batu mulia kalsedon diikat dengan kawat tembaga," tambah ibu dua anak tersebut tentang usaha yang dia tekuni sejak tahun 2014.

"Awalnya hobi. Lama-lama termotivasi meng-explore batu mulia Pacitan. Alhamdulilah bisa menambah penghasilan sebagai ibu rumah tangga di masa sulit seperti sekarang ini," pungkasnya sembari tersenyum.

Simak juga Video: Pengrajin Rebana, Syiar Agama yang Menghasilkan Materi

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)