Seorang Pekerja Migran Indonesia Kontraksi dan Melahirkan Saat Karantina

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 17:43 WIB
Suasana tegang terjadi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dikarantina tiba-tiba merasa kontraksi dan hendak melahirkan.
Bayi dari Pekerja Migran Indonesia yang melahirkan saat karantina/Foto: Istimewa
Surabaya -

Suasana tegang terjadi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dikarantina tiba-tiba merasa kontraksi dan hendak melahirkan.

PMI asal Pamekasan, Madura tersebut yakni Hasanah. Hasanah datang dari Malaysia ke Indonesia pada 19 Juli 2021, dengan hasil tes negatif COVID-19.

Di hari ketiga karantina di Asrama Haji, Hasanah melahirkan seorang bayi perempuan secara normal. Prosesi kelahiran ini awalnya dibantu Satpol PP yang bertugas.

"Tadi pagi saat kami dari Tim Trenggana Satpol PP Jatim sedang bertugas di rumah isolasi OTG di gedung E2 Asrama Haji, kami mendapatkan panggilan telepon dari KKP. Ada seorang PMI yang akan melahirkan," ungkap Ketua Tim Trenggana Satpol PP Jatim, M Solihin di Surabaya, Kamis (22/7/2021).

Mendengar kabar itu, Solihin dan anggotanya langsung melepas baju hazmat dan menyeterilkan diri dengan menyemprot disinfektan ke seluruh tubuh. Mereka langsung menuju gedung B1 kamar 214 yang menjadi kamar karantina bagi Hasanah, yang hendak melahirkan.

Akhirnya, proses melahirkan dibantu seorang dokter umum yang bertugas di poli Asrama Haji. Saat kondisi darurat, tempat tidur Hasanah sudah mulai dibanjiri banyak darah. Solihin mengaku langsung mencarikan kain dan menyiapkan air hangat untuk membantu proses persalinan.

"Anggota kami siapkan air hangat dan mencarikan kain sarung karena seprei sudah banyak darah. Karena di Asrama Haji, maka kami beli di koperasi kain ihram yang biasa digunakan untuk orang haji. Alhamdulillah prosesnya lancar dan bayi perempuan lahir sekira pukul 08.20 WIB," ujarnya.

Solihin menjelaskan, bayi perempuan tersebut sempat terlilit tali pusar. Namun prosesi kelahiran berjalan lancar.

"Ada tiga lilitan di leher bayi, namun alhamdulillah bisa diatasi oleh dokter yang membantu proses persalinan. Kami merasa lega karena akhirnya bayinya bisa menangis," tambah Solihin.

Lalu, Solihin bersama dokter bergegas membersihkan sang bayi dan membalutnya dengan kain ihram. Namun, bayi perempuan yang masih berusia delapan bulan kandungan itu juga masih dalam kondisi lemah. Agar mendapat perawatan intensif, bayi tersebut akhirnya dirujuk ke RS Haji.

"Kami rujuk ke sebelah (RS Haji) karena lahir prematur maka perlu dirawat dengan inkubator," pungkasnya.

(sun/bdh)