Cerita Nenek 87 Tahun Penjual Peyek yang Kekeh Jualan Saat PPKM Darurat

Suparno - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 17:17 WIB
nenek umi tamamia
Nenek Umi saat didekati polisi (Foto: Tangkapan layar)
Sidoarjo -

Selama PPKM darurat, nenek Umi Tamamia, penjual peyek di Jalan Diponegoro Sidoarjo selalu merasa sedih. Nyaris tak ada yang membeli dagangannya.

Padahal ia cukup lama seharian berjualan. Dengan segala keterbatasannya, nenek 87 tahun itu tetap berjualan dan percaya rezeki sudah ada yang mengatur.

Kesedihan nenek Umi akhirnya terobati saat siang itu sejumlah polisi menghampirinya. Polisi itu mengajak nenek Umi kembali ke rumahnya. Lewat polisi itulah rezeki nenek Umi datang. Ia mendapat bantuan berupa sembako dan uang tunai.

Kasat Lantas Polresta Sidoarjo Kompol Wikha Ardilestanto mengatakan pihaknya tergerak setelah mengetahui keluhan nenek Umi tersebut dari ungahan di media sosial.

"Kami menelusuri dan menemukan rumahnya. Kami berikan bantuan berupa sembako dan uang tunai yang berasal dari program Rabu Sedekah untuk membantu masyarakat tidak mampu yang terdampak PPKM darurat," ujar Wikha kepada detikcom, Kamis (22/7/2021).

nenek umi tamamiaNenek Umi dipapah menuju ke rumahnya (Foto: Tangkapan layar)

Sebelumnya, video nenek Umi viral setelah diunggah di media sosial oleh salah satu warga. Dalam video tersebut nenek Umi menangis karena peyek daganganya tidak laku dalam beberapa hari terakhir, karena Jalan Diponegoro tempatnya berjualan ditutup.

"Kalau dagangan saya tidak laku, terus saya makan apa," kata nenek Umi saat ditemui di rumahnya.

Nenek Umi merupakan warga RT 09, RW 02 Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo Kota. Nenek Umi bercerita dirinya sempat berontak dan menangis keras saat seorang polwan memegang tangannya.

"Saya mengira saya dicakup (dirazia) dan dibawa ke panti sosial. Ternyata mbak polisi baik hati tersebut mengantarkan saya pulang ke rumah dan memberi batuan," terangnya.

nenek umi tamamiaNenek Umi di rumahnya (Foto: Suparno)

Nenek Umi melanjutkan ceritanya, dirinya sudah tiga tahun terakhir berjualan peyek buatanya di Jalan Diponegoro. Dia berangkat sehabis subuh dan beranjak pulang sekitar pukul 09.00 WIB. Setiap hari, ia membawa 50 bungkus peyek yang dia jual Rp 2 ribu perbungkusnya.

"Meskipun untungnya sedikit tapi tidak apa-apa. Sewu-sewu pokok mambu (seribu-seribu yang penting bisa nabung)," kata Nenek Umi.

Sejatinya, oleh anak-anak-anaknya, nenek Umi disuruh berhenti berjualan. Namun semangatnya jauh melebihi tubuh ringkihnya. Ia tetap tak bisa dihentikan untuk berjualan. Padahal tangannya sudah terlihat bergetar. Untuk berjalan jauh saja, dia mengaku tidak mampu.

"Kalau berdiam diri di rumah, mungkin sudah lama saya mati. Badan ini harus tetap bergerak. Laku atau tidak laku, saya tetap berjualan," tandas Umi.

Simak juga 'Luhut: Perintah Presiden Rakyat Tak Boleh Kelaparan!':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)