Kronologi Ibu Hamil di Gresik Meninggal Gegara RS Penuh Pasien COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 15 Jul 2021 16:46 WIB
ibu hamil di gresik meninggal
Foto: Dok. Kepala Desa Gredek
Gresik -

Seorang ibu hamil yang bergejala COVID-19 dan bayinya di Gresik meninggal karena telat mendapat perawatan. Sementara rumah sakit yang dituju penuh pasien COVID-19.

Bagaimana kronologi kejadian tersebut?

Kejadian ini berawal pada Senin (12/7) saat Mazrotul Afiro (31), warga Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik, memeriksakan diri ke puskesmas setempat karena sesak napas. Dari pemeriksaan diketahui saturasi saturasi oksigen dalam darahnya hanya di angka 40 dari normal 90-10.

Saat itu, bidan menganalisa bumil tersebut memiliki gejala COVID-19. Sebab, selain saturasi oksigen hanya 40, juga disertai sesak nafas. Bidan pun berinisiatif mengantar Mazrotul untuk swab ke Klinik Medika di pagi hari itu sekitar pukul 09.00.

"Setelah itu dari hasil swab antigen hasilnya dinyatakan positif. Setelah itu kondisinya drop atau kritis di situ. Kita mencoba komunikasi dengan puskesmas mencoba rujukan ke RSUD Ibnu Sina, kita rujuk ke sana. Ternyata pada saat itu ruang ICU dan IGD penuh. Akhirnya bu bidan inisiatif menelepon semua RS di Gresik yang bisa menangani ibu hamil tersebut. Tapi semua mengatakan ruang ICU dan IGD penuh," ujar Kepala Desa Gredek Muhammad Bahrul Ghofar kepada detikcom, Kamis (15/7/2021).

Ghofar sendiri pun mencoba berkomunikasi dengan kades di wilayah Balong Panggang untuk mencoba mencari informasi. Karena di wilayah Balong Panggang ada 2 RS dan saat itu juga penuh.

Akhirnya, lanjut Ghofar, Mazrotul dibawa dari satu RS ke RS lainnya hingga pukul 16.00 WIB. Ia juga meminta tolong ke karang taruna yang ada di desa, disebar untuk mencari RSU di Surabaya siapa tahu ada yang kosong di ruang ICU atau IGD.

"Tapi info yang didapat semuanya di Surabaya dan Gresik full. Akhirnya kita mengambil keputusan untuk dibawa ke rumah jam 4 sore. Kita oksigen, kita infus di rumah sambil menunggu informasi, siapa tahu ada RS yang bisa dibuat rujukan," ujar Ghofar.

Akhirnya, sekitar pukul 18.00 WIB, pihak puskesmas dihubungi oleh RSUD Ibu Sina. Disampaikan bahwa di ruang ICU ada yang kosong dan bisa dibawa ke sana. Namun dengan syarat pasien membawa bed cover dan oksigen sendiri.

"Ketika dapat informasi itu, saya koordinasi dengan bidan, langsung kita bawa pasien tersebut ke RSUD Ibnu Sina. Sampai sana kondisinya full, sampai sana diperiksa. Dirawat di ruang persalinan. Namun jam 21.00 WIB bayi di dalam kandungannya dinyatakan meninggal," jelasnya.

"Besoknya, Rabu dini hari jam 1 malam sekian menit, dapat kabar ibu Mazrotul Afiro dinyatakan meninggal. Dan itu pun anaknya belum dilakukan pertolongan apa pun, masih di dalam kandungan. Sampai ibunya meninggal bayinya masih di dalam kandungan. Tidak ada tindakan persalinan," tambah Ghofar.

Kemudian, pada Rabu (14/7) selepas Zuhur, almarhum Mazrotul dimakamkan di TPU Desa Gredek. Saat dimakamkan, bayinya masih ada di dalam kandungan.

"Jadi dimakamkan hari Rabu usai Zuhur di TPU Desa Gredek, sekaligus bayinya masih di dalam kandungan. Belum dilakukan tindakan apa pun untuk mengeluarkan bayinya, belum sampai itu," kata Ghofar.

Kades Ghofar, Puskesmas, bidan, karang taruna dan warga lainnya sudah berusaha yang terbaik untuk almarhum. Mulai dari keliling mencari RS dan mencari oksigen dilakukan secara gotong royong.

"Sudah, kita keliling mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore nyari informasi, saya nyari oksigen supaya bisa menangani langkah-langkah awal. Di desa sampai beli tabung oksigen 3, padahal kondisi mencari oksigen susah sekali. Kita oksigen dan infus supaya bisa memberikan pertolongan pertama pada ibu itu, sampai adanya informasi terkait RS yang bersedia atau ruang ICU ada. Karena pada saat itu hanya ruang ICU yang bisa memberikan pertolongan karena kondisi kritis," pungkas Ghofar.

(iwd/iwd)