Pengusaha Jamu Saat PPKM Darurat: Susah ke Luar Kota, Tertantang Berinovasi

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Kamis, 15 Jul 2021 15:49 WIB
Pengusaha Jamu Pacitan Saat PPKM Darurat: Susah Jual Ke Luar Kota, Tertantang Berinovasi
Pengusaha jamu di Pacitan (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)

"Yang paling laris saat ini jahe merah original, jahe merah gula aren, dan kunyit asem," paparnya seraya menjelaskan jika tujuan mengonsumsi adalah untuk menjaga stamina.

Bagi pengusaha seperti Dwi, PPKM Darurat yang diberlakukan saat ini mengandung dua konsekuensi. Pertama, penjualan ke luar daerah tentu saja berkurang akibat pembatasan moda transportasi.

Hanya saja, sejalan pengetatan di sejumlah sektor dirinya justru terpacu untuk berinovasi. Dari situlah kemudian muncul beragam varian produk baru. Tentu saja, ada pertimbangan permintaan pasar pula.

"Penjualan ke luar daerah hanya sedikit, mengandalkan online. Dampak positifnya Kita harus berinovasi agar terus eksis dan tidak terpuruk saat PPKM Darurat ini," tandasnya.

Pengusaha Jamu Pacitan Saat PPKM Darurat: Susah Jual Ke Luar Kota, Tertantang BerinovasiPengusaha Jamu Pacitan Saat PPKM Darurat/ Foto: Purwo Sumodiharjo

Hingga saat ini perusahaan keluarga tersebut dapat memproduksi 50 botol minuman jamu tradisional, masing-masing berkapasitas 250 ml. Sedangkan untuk jenis instan, bahan baku yang dihabiskan rata-rata 1 kwintal jahe.

Produk bikinan Dwi juga diklaim tanpa pemanis buatan juga tanpa pengawet. Untuk produk cair dapat bertahan 3 hari pada suhu ruangan. Sedangkan jika disimpan di lemari es dapat bertahan sampai 8 hari.

Pola pemasarannya pun relatif sederhana. Untuk distribusi ke toko-toko, Dwi mengandalkan tenaga kurir. Di sisi lain dia juga memanfaatkan aplikasi perpesanan Whatsapp untuk menerima order dari pembeli.

"Kebetulan saya ada tempat usaha laundry di daerah Slagi. Sekalian saya pakai untuk etalase produk-produk saya," pungkas wanita berjilbab itu.


(fat/fat)