Beragam Cara Self Healing Atasi Luka Batin-Gangguan Mental

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 10:00 WIB
Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) dr Primatia Yogi Wulandari MSi
Pakar psikologi Unair (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Gangguan mental atau luka batin dalam diri biasanya bisa disembuhkan dengan cara self healing. Namun meski berbagai cara telah ditempuh, terkadang tidak semua luka bisa disembuhkan.

Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) dr Primatia Yogi Wulandari MSi menjelaskan, bahwa self healing merupakan salah satu teknik atau intervensi yang dilakukan saat muncul masalah/gangguan psikologis. Self healing dibutuhkan saat merasa ada pikiran atau perasaan yang cukup mengganggu aktivitas.

"Misal, ketika kita merasa segala sesuatu menjadi membosankan, sering kehilangan konsentrasi atau merasakan kecemasan yang kadang tidak jelas sumbernya. Bisa juga kita mendeteksinya dari sinyal tubuh yang sifatnya fisik, seperti mudah lelah, sering ada keluhan fisik namun tidak ada penyebab yang jelas, atau sulit tidur," kata Mima sapaan akrabnya, Selasa (13/7/2021).

Dari bentuk aktivitas, self healing bisa dilakukan dalam berbagai macam cara. Seperti relaksasi melalui pernafasan kontemplasi dengan meditasi atau yoga, menciptakan emosi positif yang akan berdampak terhadap munculnya endorfin atau hormon bahagia.

Selain itu, art-therapy juga dapat dilakukan, dengan menggunakan seni untuk melepaskan dan mengekspresikan emosinya. Menurutnya, manusia sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan proses penyembuhan secara alamiah. Meski ada orang yang sedikit sulit melakukan proses penyembuhan sendiri.

Dalam hal ini, lanjut Mima, self healing dapat dibantu oleh tenaga profesional seperti psikolog. Klien akan didampingi untuk menemukan kekuatan pribadinya agar dapat "sembuh".

"Tipe orang-orang tersebut membutuhkan bantuan yang bersifat langsung karena mereka akan merasa nyaman bila ada saran atau petunjuk yang jelas tentang apa yang harus dilakukan, tanpa harus melakukan proses refleksi," ujarnya.

Refleksi sendiri disebut Mima sebagai hal sangat penting yang perlu dilakukan selama self healing. Yaitu sebuah proses memaknai pengalaman yang terjadi. Melalui proses refleksi, seseorang dapat mengenali pikiran dan perasaan negatifnya. Kemudian menerima hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang memang benar-benar ada, tanpa berusaha menolak atau menghindarinya.

"Misal, menerima tentang kondisi sedang sakit, adanya anggota keluarga yang meninggal, dan fakta-fakta yang lain. Penerimaan ini sangat penting agar membuat individu lebih tenang dengan keadaan dirinya dan lingkungan sekitarnya," jelasnya.

Sementara terkait "kesembuhan", menurut Mima kondisi tersebut bisa dicapai saat diri sudah memahami dan menerima pikiran maupun perasaan yang dirasa "mengganggu". Serta merasa nyaman untuk kembali melakukan fungsi dan aktivitas sehari-hari. Meski mungkin ada perubahan di beberapa aspek sebagai konsekuensi atas proses adaptasi dari kondisi sebelumnya.

"Setiap individu memiliki potensi-potensi internal untuk menemukan cara-cara pemenuhan kebutuhan personalnya. Intinya, yang paling tahu tentang diri kita adalah kita sendiri," pungkasnya.

(fat/fat)