Polisi Jatim Sidak Apotek Cek Kelangkaan Obat di Tengah Pandemi COVID-19

Amir Baihaqi - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 19:38 WIB
Polisi Jatim melakukan pengecekan dan pengawasan kelangkaan obat di sejumlah pedagang besar farmasi dan apotek. Pengawasan dilakukan sebagai tindaklanjut perintah Kapolri dan Kabareskrim.
Polisi Jatim melakukan pengecekan dan pengawasan kelangkaan obat di sejumlah pedagang besar farmasi dan apotek/Foto: Amir Baihaqi/detikcom
Surabaya -

Polisi Jatim melakukan pengecekan dan pengawasan kelangkaan obat di sejumlah pedagang besar farmasi dan apotek. Pengawasan dilakukan sebagai tindak lanjut perintah Kapolri dan Kabareskrim di tengah pandemi COVID-19.

"Kegiatan ini dilakukan untuk menindaklanjuti perintah Kapolri dan Kabareskrim serta Kapolda jatim sebagaimana Keputusan Menkes/4826/2021 tentang (HET/harga eceran tertinggi) obat dalam masa pandemi COVID-19," ujar Diresnarkoba Polda Jatim Kombes Pol Hanny Hidayat, Senin (5/7/2021).

Dalam pengecekan dan pengawasan ini, lanjut Hanny, pihaknya telah memerintahkan Subdit II Ditnarkoba Polda Jatim yang dipimpin langsung Kompol Roni. Tak hanya itu, pihaknya juga telah melakukan sejumlah koordinasi dengan stakeholder untuk turut serta melakukan pengawasan.

Menurut Hanny, pihaknya memprioritaskan pengawasan obat untuk COVID-19. Khususnya yakni jenis invermectin. Ia menyebut tak ragu menindak bila ditemukan adanya penimbunan atau ketidaksesuaian obat jenis itu.

"Kami juga telah memerintahkan kasubdit di jajaran direktorat narkoba agar segera melakukan kordinasi dengan Dinas Kesehatan, Disperindag, BPOM untuk bersama-sama melakukan pengawasan terhadap penimbun obat invermectin," terang Hanny.

"Kami harapkan obat ini bisa digunakan untuk masyarakat kecil yang membutuhkan di tengah pandemi COVID-19. Hasil pengecekan dari beberapa wilayah ditemukan juga ada apotek yang belum menyediakan obat tersebut," imbuhnya.

Dari hasil pengawasan, lanjut Hanny, di Surabaya, obat jenis invermectin diketahui dipasok dari Jakarta. Adapun obat tersebut didistribusikan kepada dua apotek Kimia Farma dan rumah sakit. Sedangkan harganya, polisi menyebut masih normal.

"Di Surabaya di PT Indofarma mendapatkan pasokan obat invermectin dari Jakarta dan telah didistribusikan kepada 2 apotek Kimia Farma Surabaya. Selain kedua apotek tersebut juga didistribusikan ke rumah sakit yang telah melakukan pemesanan," kata Hanny.

"Dari hasil kegiatan Subdit II Direktorat narkoba di Surabaya, obat invermectin masih ditemukan dengan harga standar yakni masih dijual dengan harga Rp 30 ribu per papan, harga perseroan Rp 123.200 atau setara dengan Rp 6.160 per tablet. Sedangkan Harga Eceran Tertinggi termasuk PPN Rp 157.700 atau setara Rp 7.885 per tablet untuk yang kemasan 12 mg per botol dengan isi 20 tablet," jelasnya.

Selain invermectin, Hanny menyebut, sejumlah jenis obat juga mendapat pengawasan pihaknya. Obat-obat itu antara lain fafipravir, remdesivir, azitromycin, oseltamivir, intravenous. Ia menegaskan, pengawasan tersebut akan terus dilakukan dan dan akan diperluas lagi dengan melibatkan sejumlah stakeholder dan instansi lainnya.

"Ditresnarkoba Polda Jatim dan jajaran akan terus terus melakukan pengawasan bersama instansi terkait serta akan melakukan penindakan terhadap apotek, PBF dan distributor obat yang menimbun serta menjual dengan harga tidak standar, sehingga obat invermectin dapat terjangkau oleh masyarakat yang membutuhkan dan dapat digunakan untuk pengobatan COVID-19," pungkas Hanny.

(sun/bdh)