Kata Pakar Soal Penanganan Secara Sosio Kultural COVID-19 di Bangkalan

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 20:23 WIB
Pengamat sosial Surokim
Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Surokim Abdussalam (Foto: Dok. Surokim)

"Tapi pada dasarnya kalau orang belajar pada karakter orang Madura, di balik keras dan responsif tadi, mereka punya kepatuhan juga. Apakah tokoh agama, klebun, masyarakat sejauh yang saya tahu selama ini Insyaallah bisa (patuh)," ungkap Surokim.

"Jadi jangan membaca sesuatu dari yang tampak saja. Kalau saya membacanya, dari ekonomi masyarakat Madura dan itu sebenarnya menjadi tugas bersama, mereka butuh lebih diempati, diayomi sehingga ketika kemarin ada yang tanya, dari posisi seperti ini yang paling penting kepemimpinan keteladanan yang tidak mengganggu dan mengancam kepentingan ekonomi," imbuhnya.

Untuk itu, Surokim menyarankan pemerintah bisa menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat hingga klebun yang memiliki kedekatan dengan masyarakat. Para tokoh ini digandeng untuk bisa masif memberikan pemahaman kepada masyarakat.

"Kalau mereka bisa masif menyosialisasikan bagaimana menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan kesehatan, Insyaallah akan ketemu apa yang sebenarnya disuarakan di arus bawah Madura," pesan Surokim.

Senada dengan Surokim, Pakar sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Bagong Suyanto menilai masyarakat Madura membutuhkan empati yang kuat dari pemerintah.

"Memang ini bukan soal kalkulasi medis. Warga Madura tampaknya menjadi korban stigma. Mereka wajar merasa diperlakukan diskriminatif. Saya kira masalah COVID-19 ini merupakan isu sosial ekonomi dan budaya juga. Jadi butuh empati yang kuat. Jangan hanya mengedepankan pendekatan regulatif," papar Bagong.

"Tapi perlu memahami masyarakat adalah korban. Butuh perhatian. Partisipasi masyarakat adalah kunci sukses penanganan COVID-19. Model penanganan perlu persuasif dan menimbang variasi karakteristik budaya masyarakat," pungkas Bagong.


(hil/iwd)