Ini Konsep PSBB Surabaya Raya Plus yang Disarankan Epidemiolog

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Sabtu, 19 Jun 2021 12:23 WIB
Pakar epidemiologi asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya -

Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Windhu Purnomo menyarankan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya Raya Plus. Windhu mengatakan ada konsep PSBB plus.

Windhu memaparkan PSBB plus ini tak hanya digelar di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Namun, Windhu menyebut PSBB baiknya digelar juga di wilayah sekitar Surabaya, seperti Bangkalan dan Lamongan yang kasusnya tengah naik.

"Kita harus tegas, pemerintah daerah tidak bisa tanggung menangani hal ini. Kalau perlu sekarang bisa dilakukan PSBB bukan hanya PSBB Bangkalan, tapi PSBB Surabaya Raya Plus. Ada di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Bangkalan dan Lamongan juga hati-hati. Harusnya PSBB Surabaya Raya plus. Jangan tanggung seperti sekarang," kata Windhu di Surabaya, Sabtu (19/6/2021).

Tak hanya itu, Windhu mengatakan langkah ini perlu dilakukan mengingat telah ditemukannya delapan pasien dengan varian baru COVID-19 yakni varian dari India atau varian Delta.

"Kasus COVID-19 di Surabaya sendiri sudah mulai menanjak. Apa lagi di wilayah sebelah juga terus seperti itu, nggak ada PSBB dan sebagainya. Apa lagi dengan ditemukannya varian baru yang lebih menular. Kita ini was-was," imbuhnya.

Windhu juga menyebut status darurat kesehatan masyarakat belum dicabut. Artinya, masih perlu penanganan tegas dengan melibatkan seluruh unsur.

"Harusnya aparat tegas, ini kan situasi darurat, karena darurat kesmas belum dicabut. Artinya pemerintah daerah dengan aparatnya satpol PP, polisi, TNI, harus bisa mengendalikan. jangan ngalah. Tapi juga jangan melakukan kekerasan. Ada caranya dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama," saran Windhu.

Sementara saat disinggung terkait penyekatan dengan digelarnya tes swab antigen di Jembatan Suramadu, Windhu mengatakan langkah ini kurang efektif. Windhu menilai swab antigen tidak bisa membuktikan 100 persen jika orang tersebut benar-benar negatif.

"Sudahlah, nggak usah penyekatan lagi. tapi lakukan blokade. Lakukan PSBB, yang boleh lewat itu hanya yang esensial, ambulans, untuk kepentingan pengobatan dan pelayanan medis dan petugas," paparnya.

Menurut Windhu, swab antigen hanya bisa melihat virus di 7 hari pertama usai manusia tersebut terinfeksi. Dia khawatir jika ada yang hasilnya false negatif atau negatif palsu dari hasil swab antigen, yang justru akan menyebarkan virus.

Simak juga 'PPKM Mikro Tak Lagi Efektif, Sri Sultan HB Siap Terapkan Lockdown':

[Gambas:Video 20detik]