17 Hakim di Pengadilan Tinggi Surabaya Terpapar COVID-19

Muhammad Aminudin - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 22:29 WIB
posbankum online
Kepala PT Surabaya Herri Swantoro (pegang buku) di PN Malang/Foto: Muhammad Aminudin
Malang -

17 Hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Surabaya terpapar COVID-19. Penularan pertama berawal dari hakim tinggi yang mondar-mandir Surabaya-Kudus.

"PT Surabaya dalam cobaan yang berat, sebagai kita ketahui, sampai tadi siang, saya mendapatkan laporan 17 terpapar COVID, hakim tinggi. Ini memang bom luar biasa bagi Pengadilan Tinggi Surabaya," kata Kepala PT Surabaya Herri Swantoro dalam sambutannya saat peresmian anjungan mandiri layanan online di Pengadilan Negeri Malang, Jumat (18/6/2021).

Herri mengatakan varian baru dari India diduga menjadi penyebab cepatnya penularan COVID-19 di PT Surabaya. Karena berbagai pihak menyebut penularan varian ini 10 kali lipat dan 60% lebih berbahaya. Dan menurut Herri itu terbukti di PT Surabaya.

"Di Pengadilan Tinggi Surabaya pertama kali terpapar satu personel hakim tinggi dari Kudus. Sering mondar-mandir begitu kena, saya perintahkan semua harus PCR. Terbukti muncul terus positif-positif. Padahal dulu tidak begitu pada varian pertama," cerita Herri.

Jika dulu, lanjut Herri, satu terpapar tidak begitu cepat menyebar ke lainnya. Herri mengatakan itu karena dia sendiri merupakan penyintas.

"Jadi mohon dengan sangat kita, berdoa satu. Keduanya berupaya, berusaha untuk menjaga diri kita dan ketiga kita tawaqqal, berserah diri kepada Allah SWT," lanjut Herri.

Herri kemudian mengapresiasi inovasi Pengadilan Negeri Malang yang mampu menghadirkan Pusat Terpadu Satu Pintu (PTSP) berupa anjungan mandiri pelayanan berbasis online termasuk Pos Bantuan Hukum (Posbankum) di dalamnya.

Dimana, sistem ini sudah menjadi kebutuhan urgent pengadilan negeri di tengah pandemi COVID-19, dengan mengikuti kemajuan teknologi.

"Kita aparatur yang melayani lebih terjaga karena kemungkinan untuk berkomunikasi langsung tidak ada. Kemudian masyarakat juga akan melihat bagaimana teknologi IT telah membuat pengadilan modern, ini kebutuhan urgent bagi pengadilan," ujarnya.

(iwd/iwd)