Fakta Lain soal COVID-19 Varian India di Jatim Menurut Epidemiolog

Hilda Meilisa - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 13:24 WIB
Apa yang Kita Ketahui Tentang Varian Virus Corona dari India Sejauh Ini?
Foto: DW (News)
Surabaya -

Varian COVID-19 B1617.2 atau varian India ditemukan di Jawa Timur. Temuan ini ternyata berasal dari masyarakat Bangkalan, saat diswab antigen di Jembatan Suramadu.

Epidemiolog asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Windhu Purnomo mengatakan pihaknya memang sempat curiga jika di Bangkalan, Madura muncul varian baru COVID-19. Hal ini dilihat dari kasus meninggalnya tiga tenaga kesehatan (Nakes) beberapa waktu lalu.

"Buktinya, apa yang membuat kita curiga ini menyebar di Bangkalan, ada tiga tenaga kesehatan, dokter, perawat, bidan yang meninggal. Padahal almarhum dan almarhumah itu sudah divaksin dua dosis. Jatim kan bagus vaksinasinya," ungkap Windhu.

"Itu kalau tertular masih bisa karena virus bisa menulari kita meskipun kita sudah divaksin dua kali. Artinya vaksin tidak bisa mencegah penularan, tapi vaksin bisa mencegah kita tidak sakit. Itu kecurigaan kita dan benar ternyata ditemukan varian delta," tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Windhu juga menyebut varian delta atau India yang masuk ini melalui transmisi lokal. Bukan dari PMI/TKI yang pulang ke Jawa Timur, tetapi dari para pejalan yang bepergian ke Surabaya kemudian sedang dites di penyekatan Suramadu.

"Mereka bukan dari luar negeri, artinya apa, bukan dari PMI, tapi dari transmisi lokal. Artinya, ini sudah menyebar kemana-mana. Yang kita khawatirkan bukan menyebar di Bangkalan, tapi ke tempat lain. Apa lagi Surabaya kan kota besar," jelas Windhu.

Untuk itu, Windhu menyarankan pemerintah harus melakukan antisipasi. Salah satu yang dilakukan, bisa dengan menggelar PSBB di wilayah Bangkalan.

"Ini yang harus diantisipasi seluruh masyarakat maupun oleh pemerintah daerah. Kita sudah memberi saran, rekomendasi, semacam rekomendasi tertulis baik itu dari semua pihak organisasi profesi. Unair juga telah merilis rekomendasi yaitu lakukan PSBB. Tidak cukup lagi PPKM Mikro," pesan Windhu.

(hil/fat)