Sejumlah Kecelakaan Truk Tebu Terjadi di Blitar Iringi Musim Giling Pabrik Gula

Erliana Riady - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 08:29 WIB
kecelakaan di blitar
Truk tebu yang masuk sungai (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Pemandangan sama selalu terulang di black spot jalan utama Blitar-Malang. Ketika musim giling pabrik gula tiba, dipastikan truk tebu yang terguling selalu ada.

Catatan detikcom, dalam sepekan terakhir sebanyak lima truk tebu terguling di wilayah hukum Polres Blitar. Kejadian itu beruntun pada tanggal 6,9,10, dan tanggal 11 ada dua truk tebu yang terguling. Mereka melintas wilayah Blitar mengangkut tebu untuk disetorkan ke pabrik gula di wilayah Malang.

Lokasinya, empat kecelakaan di jalur rawan kecelakaan kawasan Brongkos Kecamatan Kesamben sampai perbatasan Kecamatan Selorejo dengan Kabupaten Malang. Sementara yang satunya, di jalanan menikung kawasan perbukitan kars di Kecamatan Wonotirto.

Kasat Lantas Polres Blitar AKP I Putu Angga Feriyana mengatakan kontur jalan yang sempit, belokan, dan turunan tajam merupakan faktor utama kecelakaan yang menimpa truk pengangkut tebu.

kecelakaan di blitarFoto: Erliana Riady

"Dengan kondisi jalan yang seperti itu, sebaiknya truk benar-benar laik jalan. Utamanya bagian rem harus pakem dan usia truk tidak tua sehingga onderdilnya tidak aus ketika bekerja keras melewati jalan menanjak, turun, atau menikung," ujarnya, Sabtu (12/6/2021).

Akibat kecelakaan itu, kerugian material bisa mencapai Rp 20 sampai 50 juta. Bahkan saat kejadian tanggal, Jumat (10/6), sopir truk mengalami luka parah karena terjepit kabin truk. Tergulingnya truk tebu, juga berimbas macetnya akses utama Blitar-Malang di kawasan timur. Karena butuh waktu minimal lima jam untuk proses evakuasi korban, truk dan memindahkan berton-ton tebu ke truk lainnya.

"Buka tutup jalan kami lakukan. Agar pengendara lain tetap bisa melintas, satu lajur aman kami optimalkan. Karena ini akses satu-satunya. Tidak ada jalan alternatif lain," jelasnya.

Fenomena truk over dimension over loading (ODOL) selalu muncul pada musim giling pabrik gula. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), kerugian negara akibat truk ODOL ternyata sudah mencapai Rp 43 triliun. Hal ini mengacu pada anggaran pengeluaran tahunan PUPR pada Juni 2020.

Selain berakibat rusaknya jalan yang dilewati, dengan membawa beban berlebih, potensi truk ODOL mengalami insiden cukup besar. Mulai karena rem blong sampai hilang kendali yang tak hanya berdampak kerusakan, namun korban jiwa.

Kabid Manajemen Lalu Lintas Dishub Pemkab Blitar Anjar Eko Juli Atmanto mengatakan kelas jalan diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Jalan dikelompokkan dalam beberapa kelas berdasarkan fungsi dan intensitas lalu lintas guna kepentingan pengaturan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas angkutan jalan. Serta daya dukung untuk menerima muatan sumbu terberat dan dimensi kendaraan bermotor.

Jalan yang dilalui truk tebu itu, menurut Anjar merupakan type jalan Kelas I. Jalan Kelas I adalah jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 milimeter, dan muatan sumbu terberat 10 ton.

"Secara aturan, truk tebu diizinkan melintas di jalan Kelas 1. Tingginya angka kecelakaan terjadi karena pemilik truk tidak menyesuaikan kapasitas angkut kendaraannya. Dan lokasi yang dilewati jalur sulit yang rawan kecelakaan. Namun itu bisa diminimalisir jika truk tidak melebihi kapasitas muatnya," kata Anjar.

(iwd/iwd)