Round-Up

Ancaman Kebiri hingga Penjara Seumur Hidup untuk Pemilik Sekolah di Kota Batu

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 07:38 WIB
Komnas PA Laporkan Pemilik Sekolah SPI Batu Lecehkan Belasan Murid
Komnas PA datangi Polda Jatim (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Komnas Perlindungan Anak (PA) menyebut kejahatan yang dilakukan pemilik sekolah SPI di Kota Batu, JE merupakan kejahatan luar biasa atau extraordinary crime. Atas perbuatannya, JE bisa dihukum seumur hidup hingga kebiri kimia.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan ada kemungkinan korban dugaan pelecehan anak hingga fisik yang dilakukan JE bertambah. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai puluhan korban.

Saat detikcom menyinggung apakah korban mencapai 40 orang, Arist menyebut jumlah ini bahkan bisa lebih.

"Lebih sebenarnya, tapi kan belum terkonfirmasi. Tapi paling tidak seperti itu dan ini saya kira akan melebar karena kejadiannya lama, bukan baru. Kalau baru nggak mungkin sampai segitu (jumlah korbannya)," kata Arist saat dihubungi detikcom di Surabaya, Rabu (2/6/2021).

Arist menambahkan jika ditarik dari 9 hingga 10 tahun lalu, memang ada kemungkinan korban mencapai puluhan. Karena, kasus ini tak hanya tentang kekerasan seksual atau fisik, tapi juga eksploitasi ekonomi dengan memanfaatkan anak di bawah umur untuk bekerja dengan jam kerja panjang namun gajinya tidak jelas.

"Tapi kalau kita kaitkan ini dalam 9 sampai 10 tahun mungkin saja terjadi korbannya baik itu secara seksual maupun ekonomi, saya kira dipekerjakan tidak sesuai jam kerjanya itu sudah melanggar. Apa lagi saat itu mereka masih kelas satu, kelas dua kelas tiga masih berusia 14 sampai 16 tahun kan," tambah Arist.

Arist mengatakan siswa yang sekolah di sana dipekerjakan di unit usaha. Tetapi, jam kerjanya begitu panjang.

"Yang dilaporkan di hari Sabtu di Polda Jatim itu kekerasan seksual, eksploitasi ekonomi, mereka setelah sekolah di sana mereka dipekerjakan di unit usaha yang ada di sekolah itu," kata Arist.

"Jadi ada praktek eksploitasi ekonomi memanfaatkan tenaga anak. Jadi setelah sekolah, mereka dipekerjakan di sana dengan jam kerja begitu panjang," imbuh Arist.

Tak hanya itu, selain menyoroti jam kerja yang panjang, Arist menyebut gaji para siswa juga tidak jelas. Karena gaji diberikan dalam bentuk tabungan. "Dan upahnya mereka itu tidak jelas karena bentuknya tabungan dan seterusnya," ungkap Arist.

Simak juga 'Pelaku Pencabulan di Masjid Pangkalpinang Menangis Saat Ditangkap':

[Gambas:Video 20detik]