Pemkab Banyuwangi Urus Dokumen Kependudukan Penghayat Kepercayaan

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 15:02 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani tengah berkantor di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh. Di sini, ia membereskan urusan dokumen kependudukan sejumlah penghayat kepercayaan.
Bupati Ipuk (tengah)/Foto: Ardian Fanani/detikcom
Banyuwangi -

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani tengah berkantor di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh. Di sini, ia membereskan urusan dokumen kependudukan sejumlah penghayat kepercayaan.

"Ini baru sebagian. Warga penghayat kepercayaan yang belum mendapat dokumen kependudukan secara baik masih cukup besar. Saya tadi tanya, ada sekitar 300. Akan saya kawal biar segera beres," ujarnya kepada detikcom, Rabu (2/6/2021).

Dengan pelayanan ini, kini di kolom agama para penghayat kepercayaan sudah tertulis 'Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa'. Sebelumnya, ada warga penghayat yang tidak memiliki dokumen kependudukan. Ada pula yang mengosongkan kolom agamanya.

"Saya minta diajukan kolektif. Langsung ratusan penghayat. Kita fasilitasi. Tidak boleh ada diskriminasi, ini spirit Pancasila yang kemarin kita peringati hari lahirnya," ujarnya.

"Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil akan proaktif berkomunikasi dengan teman-teman penghayat," jelas Ipuk.

Ipuk mengaku bahagia bisa melihat warga penghayat kepercayaan terpenuhi hak konstitusionalnya untuk diakui negara. "Saya tadi lihat, kartu identitas anak salah seorang warga sudah tertera di kolom agamanya, 'Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa'. Jadi sejak usia anak, saya minta tidak boleh malu. Masyarakat juga jangan menstigma. Mari ciptakan masyarakat yang saling menghargai," jelas Ipuk.

Ipuk menjelaskan, program berkantor di desa alias bupati ngantor di desa (Bunga Desa) yang sudah dilakoni rutin sejak dilantik 26 Februari 2021 lalu, membuatnya banyak menerima masukan. Salah satunya dari warga penghayat kepercayaan.

"Dokumen kependudukan ini strategis. Jika tidak tercatat dengan baik, dampak turunannya banyak. Mau berdikari usaha, urus izin bisa susah kalau tidak punya dokumen adminduk. Setelah dokumen ini beres dengan baik, warga penghayat bisa mengakses berbagai program pemerintah. Ada kesehatan, pendidikan, bantuan usaha, dan sebagainya," ujarnya.

Penghayat kepercayaan telah diakui negara melalui UUD 1945. Juga telah diakui dalam Undang-Undang Administrasi Kependudukan. Mahkamah Konstitusi juga sudah mengabulkan uji materi terkait UU Adminduk. Sehingga para penghayat berhak mencantumkan kepercayaannya di dokumen kependudukan.

Ipuk menyebut tantangan berikutnya untuk mewujudkan pelayanan yang adil bagi semua warga. Termasuk penghayat kepercayaan, bisa dimulai dari sektor pendidikan.