Ini Respons Wali Kota Batu soal Dugaan Pelecehan Seksual di Sekolah SPI

Muhammad Aminudin - detikNews
Senin, 31 Mei 2021 18:07 WIB
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (Foto: Muhammad Aminudin/detikcom)
Batu -

Dugaan adanya kejahatan luar biasa di sekolah SPI mengejutkan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. Orang nomor satu di Pemkot Batu ini menyebut belum bertemu korban pelecehan anak maupun pihak sekolah.

"Karena belum bertemu dengan siapapun, kami belum bisa berkomentar apa-apa. Hanya bisa berdoa semoga permasalahan ini terselesaikan dengan baik," kata Dewanti kepada wartawan di Balai Kota Amomg Tani Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu, Senin (31/5/2021).

Dewanti menuturkan belum berkomunikasi dengan korban dan pihak SPI, membuatnya tidak mengetahui kebenaran dari dugaan kasus tersebut.

"Kami belum tahu kebenarannya, belum bertemu dan berkomunikasi dengan korban, karena masa perlindungan. Begitu juga dengan sekolah, karena ada kegiatan di luar kota dan juga belum nembus Pak Sirait," kata Dewanti.

Pihak SPI sendiri telah menyerahkan seluruhnya kepada kuasa hukum yang ditunjuk. Pasca adanya pelaporan dugaan kekerasan seksual terhadap pelajar.

"Sudah ada tim lawyer, kami percayakan semua statemen-nya," kata Kepala Sekolah SPI, Risna Amalia dikonfirmasi terpisah.

Sebelumnya, Risna menegaskan, proses belajar mengajar tetap berjalan normal. Karena di masa pandemi, kegiatan belajar berlangsung daring.

"Semua normal seperti biasa berjalan dengan daring," tegasnya.

Sebelumnya, JE pemilik sekolah SPI Batu dilaporkan ke Polda Jatim. JE dilaporkan karena kasus pelecehan anak didiknya. Komnas PA juga menyebut tersimpan kasus-kasus kejahatan seksual yang dilakukan pemilik SPI. Bahkan selain pelecehan anak di Batu, juga ada kekerasan fisik, kekerasan verbal lainnya, hingga eksploitasi ekonomi dengan mempekerjakan anak. Perlakuan tak terpuji itu dilakukan sejak 2009, 2011 dan terbaru pada akhir 2020.

"Dia itu melakukan kejahatan seksual berulang-ulang kepada puluhan anak-anak pada masa sekolah di sana. Antara kelas 1, 2, 3 dan sampai anak itu lulus dari sekolah masih mengalami kejahatan itu," kata Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait saat melapor di Polda Jatim.

(fat/fat)