Ini yang Harus Dilakukan Agar Sekolah Tatap Muka di Surabaya Bisa Digelar

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 21:03 WIB
wali kota surabaya eri cahyadi
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Pertemuan tatap muka (PTM) atau sekolah tatap muka akan dimulai pada Juli 2021 mendatang. Sekolah pun mulai mempersiapkan, khususnya pada protokol kesehatan ketat di masa pandemi COVID-19 yang belum berakhir ini.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan saat sekolah tatap muka digelar, maka harus ada simulasi. Seperti saat masuk tidak serentak semuanya, tetapi dibagi beberapa sesi.

"Yang mengantar dan menjemput adalah orang yang sama. Sehingga ini harus disimulasikan. Tapi saya pasti sebelum melakukan tatap muka kepada setiap siswa yang akan melakukan tatap muka, maka harus ada form yang ditandatangani wali murid untuk memastikan 'bahwa saya mengizinkan anak sekolah tatap muka'. Jika tidak ada izin, maka anak kami perbolehkan untuk masuk ke dalam tatap muka," kata Eri kepada wartawan di Kelurahan Wonokusumo, Kamis (27/5/2021).

Saat sekolah tatap muka nanti, pemkot menyediakan dua metode, yakni online dan offline. Sehingga wali murid yang memilih anaknya sekolah online masih bisa terfasilitasi.

Namun, yang paling penting bagi Eri ialah semua guru harus sudah divaksin saat sekolah tatap muka Juli mendatang. Vaksin pun harus sudah dua kali suntikan, jika baru satu kali suntikan saja, maka tidak diperbolehkan mengajar

"Kalau vaksin satu kali tidak boleh untuk masuk, sebelum Juli harus sudah vaksin semua. Saya tanya kenapa? Ternyata vaksin itu bisa lebih bagus kalau 2 bulan, imunnya naiknya. Sehingga jatuhnya pada bulan Mei dan Juli. Insyaallah kalau Mei dan Juni masih nututi tatap muka di bulan Juli. Ini yang saya pastikan, saya minta daftar seluruh dari sekolah, guru vaksin pertama kapan, vaksin kedua kapan, itu kami siapkan. Sehingga pada waktu tatap muka sudah vaksin semua," jelasnya.

Eri menjelaskan jika sekolah tatap muka nanti akan dilaksanakan setiap hari. Tetapi, ada yang menyampaikan usulan agar satu minggu 3 kali masuk. Eri pun tidak menyetujui hal itu.

"Mending masuknya tiap hari, tapi jumlah kelas 25%. Kan kalau 1 kelas ada 7 ruang dikali 11 siswa, maka ada 77. 77 siswa ada kelas 1, 2, 3 jika ditotal ada 231 dan akan lebih mudah dikontrolnya. Kalau 3 hari sekali jumlahnya diperbanyak ya remek. Jangan buka setiap hari. Tapi kalau tidak mampu untuk buka setiap hari, mending tidak usah dibuka, diperlakukan sistem daring. Tapi harus simulasi. Kalau belum simulasi dan belum mendapatkan assesment pemkot, dan simulasi tidak mulus ya tidak usah buka," tegasnya.

"Simulasi sudah berjalan terus. Assesment yang dikeluarkan pemkot yang disetujui ada 300 SD-SMP kan bertahap terus," pungkasnya.

(iwd/iwd)