Tradisi Liwetan Saat Gerhana Bulan Dipercaya untuk Keselamatan Ibu Hamil

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 26 Mei 2021 22:11 WIB
Tradisi Liwetan Saat Gerhana Bulan Dipercaya untuk Keselamatan Ibu Hamil
Tradisi liwetan sata gerhana bulan (Foto: Hilda Meilisa Rinanda/detikcom)
Sidoarjo -

Mitos datangnya buto ijo atau makhluk gaib raksasa memangsa janin para ibu hamil saat gerhana, masih melekat di sebagian masyarakat Jawa. Saat gerhana terjadi, para ibu hamil biasanya menggelar sejumlah tradisi, salah satunya liwetan.

Liwetan atau menanak nasi liwet dipercaya bisa mengusir buto ijo. Tradisi ini digelar salah satu ibu hamil di Bungurasih, Sidoarjo, Sholikhatul Azizah.

Azizah, sapaan akrabnya, sengaja menggelar liwetan sebagai bentuk tasyakuran di kehamilan keduanya yang masih berusia empat bulan. Tasyakuran ini digelar dengan mengundang saudara hingga tetangga.

Dalam menyiapkan nasi liwet, Azizah dibantu kakaknya Siti Alimah. Nasi liwet dimasak menggunakan sejumlah bahan seperti daun salam, serai, bawang merah dan bawang putih hingga cabai merah dan garam. Rasanya pun gurih dan nikmat saat disajikan hangat.

Selain nasi liwet, tradisi liwetan ini juga dilengkapi dengan lauk khusus, yakni terancam timun dan telur. Terancam timun ini merupakan sajian khusus yang dibuat dengan sambal terasi ditambah perasan santan. Lalu, dicampur dengan potongan timun kotak-kotak.

Tradisi Liwetan Saat Gerhana Bulan Dipercaya untuk Keselamatan Ibu HamilTradisi Liwetan Saat Gerhana Bulan/ Foto: Hilda Meilisa Rinanda

Jika sambal terancam timun sudah siap, baru ditambahkan telur rebus dan dipenyet di atas cobek. Rasanya pedas gurih dan mantap. Selain terancam timun dan telur, Azizah juga menyiapkan lauk tambahan seperti ikan mujaer, ikan asin hingga tahu dan tempe.

Usai makanan disajikan, digelar doa bersama untuk keselamatan janin dan ibunya. Setelah rampung berdoa, nasi liwet dinikmati bersama-sama di atas daun pisang atau kertas minyak.

"Ini tradisi turun temurun. Untuk keselamatan ibu dan bayinya agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan," kata Azizah kepada detikcom di Sidoarjo, Rabu (26/5/2021).

Azizah mengatakan dirinya memang sengaja menggelar tradisi saat gerhana bulan total seperti ini sembari menghaturkan doa agar bayi dan ibunya diberi kesehatan hingga proses melahirkan nanti.

"Katanya dulu agar bayinya tidak dibawa buto, makanya ini saya gelar tasyakuran, berdoa bersama saudara agar selamat ibu dan bayinya. Setelah itu baru mandi keramas," ungkap Azizah.

(hil/fat)