Hasil Investigasi Disnak Tulungagung soal 8 Hewan Ternak Mati Mendadak

Hasil Investigasi Disnak Tulungagung soal 8 Hewan Ternak Mati Mendadak

Adhar Muttaqin - detikNews
Kamis, 20 Mei 2021 14:20 WIB
Dinas Peternakan (Disnak) Tulungagung menyelidiki kematian tujuh sapi dan satu kambing di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo.
Hewan ternak warga Tulungagung/Foto: Istimewa
Tulungagung - Dinas Peternakan (Disnak) Tulungagung menyelidiki kematian hewan ternak yang terdiri dari tujuh sapi dan satu kambing di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo. Bagaimana hasilnya?

Sekretaris Dinas Peternakan Tulungagung Agus Prijanto Utomo mengatakan, pihaknya telah menerjunkan tim dokter hewan ke lokasi hewan ternak yang mati mendadak.

"Kemarin atas petunjuk dari pimpinan, perintahkan tiga dokter ke Pagerwojo, untuk melihat kejadian itu. Kami menemukan jika ada kambing yang memakan kain panjang seperti tali," kata Agus, Kamis (20/5/2021).

Sedangkan benda-benda lain seperti kawat, baut maupun besi yang sempat ramai diperbincangkan warga, tidak ditemukan.

Prijanto mengatakan, terkait kain panjang mirip tali yang ada di dalam perut kambing bisa saja terjadi, akibat termakan oleh kambing tersebut. "Sehingga mengganggu proses pencernaan. Kalau baut, kawat tidak ada, itu sesuai hasil investigasi," jelasnya.

Lalu terkait klaim ditemukannya benda lain berupa pasir di dalam perut hewan ternak masih mungkin terjadi. Hal itu biasanya terbawa atau tercampur dengan pakan ternak. Sehingga tidak bisa diurai oleh sistem pencernaan.

Ia menambahkan, terkait kematian hewan ternak secara beruntun itu, pihaknya juga telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk lebih intensif melakukan pemantauan kawasan peternakan warga. Sehingga jika ada hewan ternak yang bermasalah bisa segera teratasi.

Sementara itu, salah seorang dokter hewan Dinas Peternakan Tulungagung, Eva Tutus Sumaryani menjelaskan, dalam investigasinya tim dokter mendatangi delapan lokasi ternak yang mati.

Petugas juga sempat berkomunikasi langsung dengan masing-masing peternak, guna menggali informasi menyangkut kronologis kematian sapi maupun kambing tersebut.

"Dari delapan ekor yang mati punya gejala klinis sendiri-sendiri. Jadi tidak hanya satu gejala klinis, kemungkinan diakibatkan bermacam-macam penyakit juga," kata Tutus.