Guru Besar Unair Sebut Biaya Palsukan Telur Mahal, Tak Akan Untung

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 18:24 WIB
telur ayam diduga palsu ditemukan emak-emak di kediri
Telur ayam yang diduga palsu/Foto: Istimewa
Surabaya -

Guru Besar Ilmu Produksi Ternak Fakultas Kedokteran Hewan Unair, Prof. Dr. Ir. Sri Hidanah, MS buka suara soal telur ayam yang diduga palsu. Menurutnya kecil kemungkinan ada telur palsu.

Sri mengatakan, dugaan adanya telur palsu tersebut lebih kepada hoaks. Karena, biaya pembuatan telur palsu jauh lebih besar dari pada harga telur di pasaran.

"Sepertinya dugaan pembuatan telur palsu kok sepertinya hoaks ya kalau menurut saya. Karena untuk membuat telur palsu itu tentu biayanya mahal, sementara harga telur itu kan relatif murah. Biasanya kan kalau orang memalsukan sesuatu itu ingin mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Tapi kalau membuat telur palsu rasanya biayanya mahal banget," kata Sri kepada detikcom di Surabaya, Senin (17/5/2021).

"Misalnya cangkangnya saja itu kan untuk bisa menyerupai telur asli tentu butuh dana lebih tinggi. Jadi rasanya kok hoaks ya. Rasanya kok untuk mendapatkan keuntungan besar dari membuat telur palsu kok nggak mungkin. Karena kan telur murah sekali," imbuhnya.

Tak hanya itu, Sri mengatakan, kondisi telur yang keras seperti temuan ibu rumah tangga di Kediri, bisa jadi karena telur tersebut sudah dierami namun embrionya telah mati.

"Bisa jadi kalau keras mungkin itu telur yang sudah dieramkan, kemudian tidak fertil atau mati embrionya. Kalau di tengahnya itu mati, embrionya itu kemudian menjadi keras ya kalau dimasak itu menjadi keras, bisa jadi seperti itu," ungkap Sri.

"Telur yang sudah dieramkan kemudian nggak jadi, gitu ya. Kan telur yang dieramkan itu ada yang kemudian embrionya mati sebelum tumbuh kemudian kan membusuk. Karena telur yang fertil, ada embrionya itu kan gampang turun kualitasnya. Mungkin itu di dalam pengeraman mungkin, kalau orang dulu kan ada yang nggak jadi dieramkan itu disebut telur kopyor. Itu dugaan saya," lanjutnya.

Sementara soal telur yang saat dipecah menjadi sangat cair, bisa jadi karena kondisi telur sangat lama penyimpanannya. "Kalau kemudian putih telurnya itu cair sekali, itu sebetulnya telur lama. Mungkin stok produksi telurnya itu banyak sehingga dia mungkin di dalam penyimpanannya itu cukup panjang. Sehingga saat dipecah, putih telurnya cair sekali. Telur yang terlalu lama itu bercampur putih dan kuningnya," tambah Sri.

Di kesempatan yang sama, Sri mengimbau masyarakat tidak takut untuk membeli dan mengkonsumsi telur. Karena, telur merupakan sumber protein yang bagus, murah dan mudah didapat di masyarakat.

"Telur itu sumber protein hewan yang murah, mudah didapat, gampang masaknya. Jangan sampai masyarakat takut mengkonsumsi telur karena isu telur palsu. Kasus stunting di Indonesia juga masih tinggi. Sepertinya kita masih harus terus mengkampanyekan untuk mengkonsumsi protein hewani dan telur adalah protein hewani yang murah," pungkasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2