Sentono Gentong Disebut Satu dari Tujuh Penopang Keseimbangan Pulau Jawa

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Sabtu, 15 Mei 2021 11:19 WIB
Ikon Wisata, Sentono Gentong Pacitan
Sentono Gentong (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikom)
Pacitan -

Situs Sentono Gentong diyakini memiliki kaitan erat dengan tujuh tempat lain di Jawa. Konon, di titik-titik sakral tersebut juga dipasang tumbal. Tujuannya untuk mengusir kuasa jahat sekaligus menopang keseimbangan Pulau Jawa.

"Ada tujuh tempat lain. Yaitu Banyuwangi, Blitar, Pangandaran, Cirebon, Jepara, Yuwana, dan Tidar," kata Kepala Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku Ismono mengutip cerita turun temurun, Sabtu (15/5/2021).

Berdasarkan cerita, lanjut Ismono pemasangan tumbal terjadi sekitar tahun 1.400 M. Kala itu Pulau Jawa masih sangat angker hingga tak banyak manusia yang dapat menghuninya. Penanaman benda magis itu konon dilakukan utusan dari Persia.

"Awalnya ada seseorang dari Persia diutus untuk memasang tumbal di sini (Sentono Gentong). Namanya Syekh Barabah Al Farizi (Syekh Brubuh)," tutur Ismono.

Namun rupanya rencana awal belum dapat terlaksana. Tugas itu pun akhirnya dilanjutkan oleh tokoh lain bernama Syekh Subakir. Nama Syekh Subakir juga dikaitkan dengan penyebaran agama Islam di wilayah Jawa termasuk Pacitan.

Menurut Ismono, keberadaan Sentono Gentong sendiri lebih dikenal sebagai obyek wisata alam. Hal itu menyusul dibukanya kawasan tersebut sejak tiga tahun terakhir. Di sisi lain pengelola tetap berupaya merawat situs yang dianggap istimewa secara spiritual.

Sentono Gentong berada di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Hanya perlu 15 menit dengan kendaraan bermotor dari Kota Pacitan ke arah barat. Aksesnya pun cukup mudah. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat dapat mencapai area parkir tanpa hambatan.

Pemandangan menakjubkan segera menyambut pengunjung setibanya di parkiran. Landskap Kota Pacitan tampak membentang. Di bagian utara berbatas pegunungan menghijau. Sedangkan birunya Samudera Hindia berada di ujung selatan.

Fasilitas di Sentono Gentong tergolong lengkap. Mulai dari gardu pandang, musala, hingga kamar mandi semuanya tersedia. Ada pula tempat khusus yang dipasang pagar dengan rumah kecil beratap ijuk. Tempat itu diyakini sakral untuk ritual.

"Memang tugas kami merawat situs itu. Sebenarnya siapapun boleh masuk. Ndak ada syarat khusus kecuali bersuci (wudhu)," pungkasnya.

(fat/fat)