Saat Lapak Penjual Bunga dan Penukaran Uang Ditertibkan Satpol PP Bojonegoro

Ainur Rofiq - detikNews
Rabu, 12 Mei 2021 21:04 WIB
penertiban satpol pp bojonegoro
Satpol PP tertibkan penjual bunga (Foto: Ainur Rofiq)
Bojonegoro -

Penjual bunga dan lapak penukaran uang baru ditertibkan Satpol PP Bojonegoro. Mereka ditertibkan karena berjualan di dekat rumah dinas pejabat di Jalan AKBP Suroko.

Siti (50), warga Dander adalah salah satu dari penjual bunga yang kena razia. Ia yang sedang duduk menjajakan bunga di pinggir trotoar dekat gerbang kantor Kesbangpolinmas yang sedang tutup mendadak kaget saat Satpol PP berhenti di depan lapaknya.

Beberapa satpol PP turun dari mobil dan meminta para penjual bunga, termasuk Siti, untuk pindah di tempat yang telah ditentukan dan merupakan area berjualan.

"Ayo monggo pindah di tempat lain. Jangan di sini. Saya sebenarnya tutup mata kemarin, kalau nggak ada yang lapor. Ini dekat rumah dinas dan perkantoran," ujar salah satu satpol PP, Rabu (12/5/2021).

penertiban satpol pp bojonegoroLapak penukaran uang baru juga ditertibkan Satpol PP (Foto: Ainur Rofiq)

Siti akhirnya memilih pindah di lokasi lain agar bisa mendapat rejeki untuk lebaran besok. Namun dia sedikit protes.

"Halah pak, kulo niki golek rejeki dadakan setahun sekali lha kok di suruh pindah. Kemarin kemarin padahal juga nggak papa di sini," Keluh Siti sambil membongkar lapaknya.

Para penjual bunga ini rata rata memasarkan setangkup bunga ziarah dengan harga Rp 5 ribu.

"Lagi buka pak, lagi oleh duit Rp 70 ewu lha kok diparani pak e iki." imbuh penjual bunga yang lain.

Satpol PP juga menertibkan jasa penukaran uang yang juga menggelar lapaknya di lokasi tersebut. Mereka dibawa ke kantor Satpol PP guna mendapatkan pembinaan dan membuat surat pernyataan.

"Para pengedar uang baru mengaku mendapatkan uang dari bandar dengan memberikan keuntungan kepada bandar 2,5% dan para pelapak menentukan tarif 10% kepada para penukar uang," ujar Kabid Trantib Pol PP Pemkab Bojonegoro Beny Subiakto.

9 Orang jasa penukaran uang terdiri dari 4 orang dari Mojokerto, 2 orang dari Jombang, 1 orang Semarang, dan 1 orang sisanya warga Bojonegoro.

(iwd/iwd)