Dari Mana Munculnya Klaster Tarawih di Banyuwangi, Ini Dugaannya

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 20:59 WIB
klaster tarawih
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi -

Satgas COVID-19 Banyuwangi menelusuri awal mula munculnya klaster Tarawih. Ada dugaan munculnya klaster tersebut lantaran adanya pemudik yang pulang kampung lebih awal dalam kondisi sakit, yang tetap nekat ikut tarawih di masjid setempat.

Kepala Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Budi Santoso memprediksi awal mula kedatangan COVID-19 di daerahnya. Ia menyebut, sebelum virus corona menyerang salah seorang warganya hingga meninggal, kemungkinan virus tersebut dibawa seseorang dari luar negeri.

"Memang ada warga sini yang datang dari luar negeri. Di perjalanan katanya dia positif saat dilakukan tes. Tiba di rumah tidak menyampaikan kedatangannya. Kemudian yang bersangkutan ikut tarawih di musala ini," kata Budi, saat ditemui di Dusun Yudomulyo, Senin (10/5/2021).

Setelah itu, kata Budi, salah seorang pengurus musala mengeluh sakit dan harus mendapat perawatan di rumah sakit. Selang beberapa waktu, yang bersangkutan meninggal dan dinyatakan positif COVID-19.

"Setelah itu dilakukan tracing dari warga yang kontak erat, ada yang positif juga," katanya.

Hingga kini, pihak Satgas COVID-19 setempat telah melakukan tracing sebanyak 300 orang. Hasilnya, 62 orang dinyatakan positif. Sementara kasus kematian ada 6 orang.

"Di sini ada tiga dusun, tapi yang paling banyak di Dusun Yudomulyo. Di sini kita ambil tindakan sejak 3 Mei lalu kita berlakukan pembatasan aktivitas warga, ada yang isolasi mandiri juga," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr. Widji Lestariono menyebut, banyak kemungkinan penyebab terjadinya klaster tersebut. Apalagi, kasus COVID-19 di Banyuwangi memang telah menyebar sejak lama.

"Kasus COVID-19 di Banyuwangi ini menyebar sejak lama. Kita tidak bisa memprediksi dari mana datangnya. Yang jelas, berkembangnya COVID-19 di sini bisa terjadi karena terpapar antar warga atau yang biasa disebut transmisi lokal," pungkasnya.

Namun yang pasti menurutnya, penularan dan penyebaran COVID-19 ini terjadi karena masyarakat masih abai terhadap protokol kesehatan. Masih ada masyarakat yang tidak menggunakan masker secara tertib, dan kerumunan masih terjadi di beberapa tempat.

Apalagi, lanjutnya menjelang hari raya lebaran eskalasi pergerakan dan aktivitas Warga semakin meningkat. Mulai tradisi mudik, kegiatan selama Ramadhan yang menimbulkan kerumunan. Semuanya berpotensi menjadi sarana penyebaran dan penularan COVID-19.

"Jadi memang banyak faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan COVID-19 ini," tegasnya.

Rio menambahkan meskipun vaksinasi sudah dilaksanakan, namun menurutnya jumlahnya belum siginifikan. Angkanya masih jauh sekali dari target yang ditetapkan pemerintah.

"Jadi sama sekali belum signifikan soal vaksinasi ini. Oleh karena itu kita semua tetap harus menjalankan protokol kesehatan secara ketat," pungkasnya.

(iwd/iwd)