22 Pekerja Migran yang Pulang ke Jatim Positif COVID-19

Hilda Meilisa - detikNews
Sabtu, 01 Mei 2021 23:09 WIB
gubernur khofifah
Gubernur Khofifah (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya -

Sebanyak 22 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang ke Jawa Timur diketahui positif COVID-19. Hal ini diungkapkan Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

Khofifah mengatakan rencananya ada 14.000 PMI yang pulang Jatim secara bertahap. Kebanyakan, PMI pulang karena kontraknya sudah habis. Untuk itu, Khofifah menyiapkan sejumlah regulasi hingga tempat karantina.

"Untuk PMI Pekerja Migran Indonesia karantinanya disatukan di asrama haji kalau ada yang positif maka dikirim ke rumah sakit darurat lapangan Indrapura dan seminggu lalu ya dari 2.000 yang datang ada 22 yang positif," ungkap Khofifah di Masjid Al Akbar Surabaya, Sabtu (1/5/2022(

"Semua dibawa ke asrama haji. Sebelumnya mereka tes PCR swab, kemudian kalau negatif, lima hari kemudian mereka masing-masing akan diantarkan ke pendopo kabupaten kota dari mana mereka berasal," tambahnya.

Sementara itu, Forkopimda Jawa Timur, melakukan peninjauan repatriasi PMI yang masuk di wilayah Jatim di Terminal 2 Bandara Juanda Sidoarjo. Selanjutnya para PMI dari berbagai ini dibawa ke Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya.

Dalam kesempatan ini, Pangdam V/Brawijaya Mayjend TNI Suharyanto, Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta, dan Sekda Prov Jatim Heru Tjahjono, secara langsung memastikan proses repatriasi dengan dilakukan screening di Bandara Juanda dapat berjalan dengan baik. Sshingga dapat memastikan PMI dapat terjaring sebelum masuk wilayah Jawa Timur.

Personel yang terlibat yakni Subsatgas Bandara, Satgas Repatriasi PMI jatim, terdiri dari gabungan Personel KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan), Imigrasi, Dinas kesehatan, Dinas Perhubungan, TNI dan Polri.

Usai dilakukan screening pada PMI, mereka langsung dibawa ke Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya, untuk dilakukan proses karantina selama dua hari sebelum nantinya akan di pulangkan ke rumahnya masing-masing.

Setelah melaksanakan Test PCR, WNI diwajibkan melaksanakan karantina di tempat karantina khusus yang telah disediakan oleh pemerintah selama 2 hari. Lalu untuk WNA diwajibkan karantina di hotel atau penginapan yang sudah disertifikasi penyelanggaraan akomodasi karantina COVID-19, oleh Kemenkes RI dengan biaya mandiri. Setelah hasilnya negatif akan diakomodir terkait akomodasi ke daerah asal.

Menurut Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Suharyanto, para PMI ini secara moril tidak ada masalah, karena semuanya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

"Kemudian selama di sini (Asrama Haji), mereka mendapat makan, digelar dapur umum oleh Dinas sosial Pemerintah Provinsi Jatim, dibantu oleh Polda Jawa Timur, dan Kodam lima Brawijaya," jelasnya.

Setelah dua hari karantina di Asrama Haji Surabaya, mereka nantinya akan dijemput para bupati, Walikota, Dandim, dan Kapolres. Penjemputan ini di hari ketiga.

Kemudian di sana di tempat masing-masing, masih dikarantina tiga hari. Lalu, usai karantina, mereka kembali diswab sebelum mereka diperbolehkan bertemu dengan keluarganya.

"Kalau hasilnya negatif, di hari ke empat, di kabupaten kota mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Artinya, karantinanya menjadi lima hari. Dua hari di sini terpusat kemudian tiga harinya tersebar di kabupaten kota," pungkas Suharyanto.

(hil/iwd)