Urban Legend 2021

Mitos Pasetran Gondo Mayit Tempat Bertemu Penguasa Pantai Selatan

Erliana Riady - detikNews
Kamis, 29 Apr 2021 08:01 WIB
Pasetran Gondo Mayit merupakan nama pantai di pesisir selatan Blitar. Mitos yang berkembang, itu lokasi yang pas jika ingin bertemu penguasa pantai selatan.
Pantai Pasetran Gondo Mayit/Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar -

Pasetran Gondo Mayit merupakan nama pantai di pesisir selatan Blitar. Mitos yang berkembang, itu lokasi yang pas jika ingin bertemu penguasa pantai selatan.

Pantai sepanjang sekitar satu kilometer ini berpasir putih. Pantainya juga terbilang bersih karena jarang didatangi wisatawan. Selain belum banyak yang tahu, akses masuk ke bibir pantai memang baru kelar beberapa bulan belakangan.

Lokasinya tepat di sebelah timur Pantai Tambakrejo Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Kedua pantai ini hanya dibatasi sebuah bukit setinggi sekitar 25 meter. Sepanjang mata memandang, hamparan pasir putih yang bersih, diambang batas air pantai yang menghijau jernih.

Selama ini, masyarakat yang hanya mendengar namanya saja, sudah menilai pantai ini menyeramkan. Pasetran Gondo Mayit, memang nama yang identik dengan hal mistis, bau anyir mayat dan semua yang berkaitan dengan makhluk astral atau dunia supranatural.

Namun ketika detikcom menyambangi, kondisi yang ada berbeda 180 derajat. Tak ada bau anyir mayat, justru semerbak harum dupa menyeruak kala angin berembus kencang. Pengelola pantai, Bagyo mengatakan, nama Gondo Mayit ini dimunculkan karena lokasi ini memang baunya harum kembang dan dupa yang biasanya diletakkan di sisi jenazah atau makam.

"Maksudnya Gondo Mayit itu bukan bau mayat membusuk. Tapi bau kembang dan dupa dekat jenazah atau makam. Asal baunya dari pasetran di atas sana," kata Bagyo sambil menunjuk bukit di sisi timur pantai, Kamis (29/4/2021).

Pasentran disebut Bagyo menyerupai petilasan. Danyang atau tokoh yang babad lokasi di sini, konon bernama Adnan. Dia mempunyai kekuatan lebih karena sering bersemedi di atas bukit itu untuk bertemu penguasa pantai selatan.

Lokasi tempat Adnan bersemedi inilah, sumber bau harum yang semerbak sampai ke pantai di bawahnya. Masyarakat yang menyadari potensi wisata mistis ini, kemudian membangun paseban seluas 4x4 meter. Untuk menuju ke sana, kita harus berjalan menapaki tatakan beton sejauh 100 meter.

"Di sinilah Mbah Adnan ada yang bilang mukso. Tapi versi lain menyebut, Mbah Adnan meninggal ketika semedi di sini, lalu jenazahnya dimakamkan di pemakaman utara desa ini. Lokasi ini kemudian tetap dipakai orang yang punya hajat untuk tirakat," ungkapnya.

Seperti umumnya budaya Jawa, kearifan lokal ini terjaga dengan hadirnya sesaji berupa bunga dan dupa. Namun Bagyo mengaku, semua kalangan datang ke paseban ini untuk berdoa bersama. Ada yang membaca Yasin dan tahlil, ada umat Hindu sembahyang bersama, umat Budha dan Nasrani dari dalam dan luar negeri.

Selanjutnya
Halaman
1 2