Jangan Sampai Bangkai Kapal van der Wijck Dijarah

Eko Sudjarwo - detikNews
Rabu, 28 Apr 2021 17:25 WIB
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim mulai mengeksplorasi keberadaan Kapal van der Wijck. Kapal itu diduga tenggelam di perairan Brondong Lamongan pada 1936.
Laporan dimulainya eksplorasi Kapal van der Wijck/Foto: Eko Sudjarwo/detikcom
Lamongan -

Perairan utara Jatim menyimpan banyak bangkai kapal sisa Perang Dunia II. Termasuk Kapal van der Wijck di perairan Lamongan.

"Kalau di wilayah Jawa Timur, mulai Tuban sampai Banyuwangi di laut utara, termasuk Madura juga. Itu banyak sekali kapal kayu maupun kapal besi dari masa Perang Dunia II. Termasuk pesawat juga yang ada di laut," kata arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho usai bertemu Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Rabu (28/4/2021).

Hanya saja, lanjut Wicaksono, banyak dari bangkai kapal itu yang sudah dijarah dan dipotong-potong, dan besinya sudah diperjualbelikan. Wicaksono kemudian mencontohkan dua bangkai kapal uap di perairan Tuban, yang sudah habis dijarah dan hanya menyisakan rangka kapal saja.

"Memang banyak juga yang sudah dijarah dipotong-potong dan besinya dijual. Seperti di Tuban, ada 2 bangkai kapal uap yang sudah habis tinggal rangka saja. Sedangkan komponen lain sudah dipotong dan diangkat untuk dijual," jelasnya.

Kenyataan semacam itu, harap Wicaksono, tidak terjadi pada bangkai Kapal van der Wijck. Pasalnya, itu adalah kapal yang sangat melegenda. Masyarakat Indonesia tahu karena adanya novel dari Buya Hamka, yang tahun 2013 menjadi viral kembali karena adanya film Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

"Selain itu, Kapal van der Wijck juga merupakan kapal mewah yang pada tahun 1936 menjadi cikal bakal PT Pelni saat ini. Nilai sejarah itulah yang membuat Kapal van der Wijck ini menjadi sangat penting," ungkap Wicaksono.

Untuk diketahui, perairan pantai utara (pantura) Lamongan diduga juga menyimpan harta karun bawah laut. Salah satu harta karun itu adalah bangkai Kapal van der Wijck yang tenggelam di perairan Brondong pada 20 November 1936.

Kisah tenggelamnya Kapal van der Wijck juga menjadi novel dengan judul Tenggelamnya Kapal van der Wijck, karya Buya Hamka yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada 2013.

Bagi warga Lamongan, tenggelamnya Kapal van der Wijck bukan semata-mata cerita novel. Tapi kisah nyata upaya warga Lamongan dalam membantu mengevakuasi korban tenggelamnya kapal mewah pada zamannya itu. Buktinya ada tugu peringatan yang sampai hari ini masih berdiri dan berada di Pelabuhan Nusantara Brondong.

(sun/bdh)