Krisna Yekti, Sosok Kartini di Blitar dalam Pandemi COVID-19

Erliana Riady - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 19:00 WIB
Handphone Krisna seakan tak pernah berhenti berdering, sejak dia dilantik sebagai Jubir Satgas COVID-19 pada April 2020. Ibu dari dua putra ini totalitas membaktikan diri untuk mengurus banyak hal yang berkaitan langsung dengan penanganan pasien Corona. Mulai dari proses tracing, testing, treatment pasien sampai dengan keluarga pasien.
Krisna Yekti/Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar -

Krisna Yekti merupakan salah satu sosok Kartini dalam penanganan pandemi COVID-19 di Kabupaten Blitar. Sebagai Jubir Satgas COVID-19 ia bekerja 24 jam.

Handphone Krisna seakan tak pernah berhenti berdering, sejak dia dilantik sebagai Jubir Satgas COVID-19 pada April 2020. Ibu dari dua putra ini totalitas membaktikan diri untuk mengurus banyak hal yang berkaitan langsung dengan penanganan pasien Corona. Mulai dari proses tracing, testing, treatment pasien sampai dengan keluarga pasien.

Waktu yang berputar selama 24 jam, dirasa tidak cukup untuk melakukan itu semua. Belum lagi jika dirinya wajib menghadiri rapat koordinasi yang berlangsung sampai malam hari. Begitu pulang, selama perjalanan menuju rumahnya di Desa Kaweron, Kecamatan Talun, dering handphone seakan tak paham jika pemiliknya juga butuh istirahat, walau sesaat.

"Gak tega saya mematikan HP walaupun itu bisa saya lakukan. Sampai rumah, HP itu selalu di dekat saya sampai saya tertidur karena lupa. Nanti kalau HP bunyi, ya saya harus menjawabnya," tutur Krisna kepada detikcom, Rabu (21/4/2021).

Krisna Yekti merupakan sosok Kartini di ujung tombak penanganan Corona di Kabupaten Blitar. Wanita ini perkasa mengatasi semua masalah yang kerap terjadi selama proses penanganan. Tekanan demi tekanan diterimanya baik dari internal maupun instansi lain yang saling berkaitan. Wanita ini berada di garda depan koordinasi lintas sektor yang didominasi kaum pria.

Apalagi stigma negatif masih melekat erat pada pasien dan keluarga, diawal Corona mewabah. Belum lagi adanya instansi yang minta datanya ditutupi dari publikasi media, karena menyangkut kredibilitas kepemimpinannya.

"Saya tidak mau memanipulasi data. Apalagi menutupinya, karena kalau ditutupi semakin berpotensi meluas penyebarannya. Kami tidak bisa sentralisir kontak erat untuk memutus mata rantai penularannya. Jadi berbeda pendapat dalam penanganan itu jadi riak-riak pekerjaan saya selama ini," akunya.

Pernah Krisna tidak tidur sama sekali selama lebih dari 32 jam, untuk mengurusi keluarga pasien meninggal terkonfirmasi COVID-19. Pasien merupakan seorang pejabat dan warga sekitar menolak keberadaan keluarganya.