Alasan Prof Nidom Dukung Vaksin Nusantara

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 20:33 WIB
Prof nidom
Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Unair Prof drh Chairul Anwar Nidom/Foto: Istimewa (Dok Prof Nidom)
Surabaya -

Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Unair Prof drh Chairul Anwar Nidom mendukung vaksin Nusantara. Ia mengaku berbeda dengan peneliti Unair lainnya.

"Saya sebagai Guru Besar Biologi Molekuler mempunyai otoritas keilmuan. Tidak harus seragam dan tergantung kepada guru besar lain," kata Prof Nidom saat dihubungi detikcom, Selasa (20/4/2021).

Menurutnya, selama ini dia kurang yakin pada vaksin konvensional (termasuk vaksin merah putih) bisa mengendalikan virus Corona. Sebab, virus Corona sangat cerdik. Sangat mudah mutasi.

"Sekali melakukan meliuk yang bisa membuat tercengang semua peneliti. Juga pembuatan vaksin konvensional yang sangat sulit mengimbangi perubahan virus COVID. Coba kita lihat sampai satu tahun lebih apa ada obat dan vaksin yang betul-betul sukses? Karena virus ini sangat cerdik bisa mengenali bahan yang akan membunuh dia," paparnya.

"Sampai saat ini mutasi sudah terjadi 200 permutasian dan sudah menjadi beberapa varian yang mengkhawatirkan. Sementara pelaksanaan pengadaan dan penentuan vaksin belum selesai. Sekarang vaksin-vaksin akan memperbarui formulasinya kira-kira 6 bulan lagi. Apakah selama 6 bulan virus tidak mengadakan mutasi dan meliuk lagi menjadi varian baru yang kebal terhadap vaksin?" imbuhnya.

Prof Nidom kemudian menjelaskan lebih sederhana mengapa dirinya mendukung vaksin Nusantara. Menurutnya, vaksin tersebut hanya membutuhkan waktu singkat dalam pembuatannya. Sehingga lebih fleksibel dalam mengantisipasi mutasi virus.

Ia mengaku tertarik dengan vaksin Dendritik (vaksin Nusantara), meski bukan bagian dari peneliti vaksin tersebut. "Setelah studi literatur, maka kesimpulan saya teknologi vaknus (vaksin Nusantara) bisa sebagai alternatif mengendalikan virus COVID-19. Karena pembuatan vaksinnya hanya 7-8 hari, kemudian disuntikkan kepada orang yang divaksin," terangnya.

"Jika ada perubahan virus di lapangan maka dengan cepat vaksin bisa disesuaikan dengan virus yang baru karena cuma butuh 7-8 hari. Bandingkan dengan vaksin konvensional yang harus menunggu 6 bulan untuk vaksin yang baru. Itu alasan teknis sikap saya terhadap vaksin Nusantara. Saya tidak peduli dengan penolakan yang terjadi, karena saya anggap kita sedang dihinggapi Scientifical Shock Syndrome," pungkas prof Nidom.

(sun/bdh)